04/01/26

Season 9 Kerajaan mythopia

Chapter 71 Semedi di Ambang Cahaya

Isidore duduk bersila di atas tanah yang masih hangat oleh sisa pertempuran. Napasnya belum sepenuhnya teratur; luapan energi dari Bayang Agung dan sentuhan kekuatan Rasvatar masih berputar liar di dalam nadinya, seperti arus sungai yang meluap setelah badai besar. Keris di pangkuannya berkilau redup, seolah turut beristirahat bersama tuannya.
Para ksatria membentuk lingkaran pelindung.
Pangreksa menurunkan suhu udara di sekelilingnya, menenangkan panas yang membara di tubuh Isidore. Bayu Anggana mengalirkan angin lembut, ritmis seperti napas bumi. Sagara Putra meneteskan air suci ke tanah, menciptakan gema sunyi yang menenangkan jiwa. Guntur Wisesa menahan kilat di dalam dirinya, meredam getar yang berlebihan. Bhra Anuraga memadamkan bara amarah, sementara Rakajati menumbuhkan akar tipis yang menghubungkan Isidore dengan denyut kehidupan hutan.
“Tenanglah,” ujar Rakajati lirih. “Biarkan bumi memikul sebagian bebanmu.”
Perlahan, Isidore memejamkan mata. Napasnya menyatu dengan irama alam. Cahaya di sekelilingnya meredup, dan dunia pun menjauh.
Mimpi Leluhur Mythopia
Isidore berdiri di sebuah dataran luas yang disinari cahaya keperakan. Langit di atasnya bertabur bintang yang tak pernah ia kenal, dan angin membawa nyanyian lama—lagu yang hanya hidup dalam ingatan darah. Dari kabut cahaya, muncullah sosok-sosok berjubah putih dan emas, wajah mereka tenang, mata mereka menyimpan kebijaksanaan zaman.
Mereka adalah leluhur Mythopia.
Salah seorang melangkah maju, suaranya lembut namun bergema hingga ke relung jiwa:
“Isidore, pewaris cahaya dan penjaga batas. Jalanmu berat karena hatimu luas.”
Isidore menunduk hormat.
“Aku berusaha menjaga dunia ini, meski kegelapan selalu kembali.”
Sosok lain mengangkat tangannya, menunjuk ke arah bayangan jauh yang berdenyut gelap.
“Jagalah selalu hatimu dari keburukan. Kekuatan terbesar bukan pada pedang atau mantra, melainkan pada niat yang tak ternoda.”
Yang tertua di antara mereka mendekat, sorot matanya tegas namun penuh kasih.
“Berhati-hatilah bila kelak engkau bertemu Rasvatar lagi. Ia menguasai keburukan bukan karena kuat, melainkan karena manusia memberinya celah. Jangan biarkan amarah, ketakutan, atau kesombongan membuka pintu baginya.”
Isidore mengangkat wajahnya.
“Bagaimana aku bertahan, jika kegelapan menyentuh hatiku?”
Jawaban itu datang seperti embun pagi:
“Ingatlah siapa dirimu, dan untuk apa engkau berdiri. Selama engkau memilih welas asih di atas kuasa, cahaya akan menemukan jalannya.”
Cahaya di sekeliling mereka memudar perlahan. Nyanyian leluhur menjauh, meninggalkan satu kalimat terakhir yang menggema:
“Kau tidak berjalan sendiri.”
Isidore membuka mata. Lingkaran para ksatria masih setia menjaga. Hutan tampak lebih terang, dan beban di dadanya terasa berkurang. Ia menarik napas panjang, bangkit perlahan—lebih tenang, lebih jernih.
Di kejauhan, angin membawa bisikan masa depan.
Perjalanan belum usai, namun kini Isidore tahu: selama hatinya terjaga, kegelapan takkan berkuasa sepenuhnya.
Chapter 72 Jejak di Hutan Sinabung

Sementara Isidore masih duduk bersila dalam istirahatnya, berjuang menata kembali sirkulasi energi yang bergejolak di dalam tubuhnya, Pandika telah melangkah menjauh dari lingkaran para ksatria. Wajahnya serius, matanya tajam menembus kegelapan hutan Sinabung. Misi yang diembannya berbeda—sunyi, berbahaya, dan tak kalah penting: mencari para sandera yang direnggut oleh gerombolan kegelapan.
Angin malam membawa bau tanah basah dan darah lama. Namun tak satu pun jejak manusia dapat ia tangkap.
Dengan helaan napas panjang, Pandika merogoh sebuah kantong kecil berhiaskan sulaman cahaya, pemberian bangsa peri dari masa silam. Ia membukanya perlahan.
Dari dalam kantong itu, muncul seekor anak kucing hitam, perutnya gendut dan matanya setengah terpejam, seolah baru terbangun dari tidur panjang.
Namun makhluk itu bukanlah kucing biasa.
Tubuhnya mulai membesar—perlahan namun pasti. Tulangnya memanjang, ototnya mengeras, bulunya menebal seperti malam yang menggulung. Dalam sekejap, ia telah menjelma menjadi makhluk sebesar serigala raksasa, dengan sorot mata emas yang cerdas dan senyum malas penuh sindiran.
“Gelap sekali di dalam kantong itu,” gerutu makhluk itu dengan suara berat namun malas.
“Kenapa lama sekali aku dikeluarkan, hah, Pandika?”
Pandika menunduk sedikit, rasa bersalah terlintas di wajahnya.
“Mohon maafkan aku. Aku terlupa… tapi kini aku sungguh membutuhkanmu. Para sandera masih belum kutemukan. Hutan ini seperti menelan jejak mereka.”
Si Maung Kucing menguap lebar, memperlihatkan taringnya yang berkilau.
“Hm. Untuk pekerjaan sepenting ini… kau berutang satu kilo ikan segar.”
Pandika tersenyum tipis.
“Itu mudah. Sekarang cepatlah, endus jejak mereka.”
Makhluk itu menundukkan kepalanya, hidungnya bergerak-gerak menghirup udara. Ia berjalan beberapa langkah, lalu mendengus kesal.
“Kau ini menyusahkan. Terlalu lambat jika berjalan seperti manusia.”
Ia menoleh tajam.
“Naik saja ke punggungku.”
Tanpa banyak bicara, Pandika memanjat punggung si Maung Kucing. Tubuh makhluk itu kokoh dan hangat, denyut kekuatannya terasa seperti binatang purba yang telah lama menjaga hutan ini.
Dengan satu lompatan panjang, mereka melesat menembus semak dan akar, bayangan hitam melaju di antara pepohonan. Daun-daun beterbangan, dan tanah bergetar pelan di bawah langkah sang penjaga malam.
Di hadapan mereka, hutan Sinabung terbentang luas—sunyi, gelap, dan menyimpan jeritan yang belum terjawab.
Dan perburuan pun dimulai.
Chapter 73 Kekhawatiran di Bukit Kemuning

Sementara bayang-bayang peperangan masih menggantung di hutan Sinabung, Putri Dyah Sekar Tanjung memilih untuk tidak kembali ke Majapahit. Ia tetap berada di Bukit Kemuning, bersama kelompok pengawal setianya. Angin senja mengibaskan rambutnya, dan matanya menatap jauh ke arah pegunungan, seolah ingin menembus jarak dan kegelapan yang memisahkannya dari Isidore.
“Aku ingin tahu,” ucap sang Putri pelan namun tegas,
“musuh seperti apa yang dihadapi Isidore.”
Pendekar Bayangan Pertama, yang berdiri setengah tersembunyi di balik pepohonan, menundukkan kepalanya sedikit.
“Apa pun makhluk itu, Paduka Putri… jelas bukan manusia. Kegelapan yang ia keluarkan terlalu pekat, terlalu tua. Seperti malam yang hidup.”
Paman Hanggono melangkah maju, wajahnya diliputi kecemasan.
“Putri, sebaiknya kita kembali ke Majapahit. Ayah dan ibumu pasti sangat khawatir bila Paduka tak kunjung pulang.”
Namun Dyah Sekar Tanjung menggeleng perlahan.
“Paman,” katanya lembut namun berani,
“aku bukan lagi gadis yang hanya bersembunyi di balik dinding istana. Aku telah belajar ilmu bela diri. Aku bisa melindungi diriku sendiri.”
Belum sempat paman Hanggono menjawab, kupu-kupu hias berlapis emas yang selalu setia di sisi sang Putri tiba-tiba mengepakkan sayapnya dengan gelisah. Cahaya lembut memancar dari tubuh mungilnya, dan serbuk sari keemasan berpendar di udara.
Wajah sang Putri seketika memucat.
“Tidak…” bisiknya gemetar.
“Isidore…”
Ia merasakan pesan yang disampaikan kupu-kupu itu—keadaan Isidore sedang tidak stabil, aliran tenaga dalamnya bergejolak hebat, seperti sungai yang meluap tanpa tepi.
“Jika ini dibiarkan…” suaranya bergetar,
“kekasihku bisa mati.”
Ia menoleh cepat kepada Pendekar Bayangan Kedua, matanya menyala oleh keteguhan.
“Cepat. Antar pil ajaib ini kepada Isidore. Obat ini dapat menstabilkan kembali energinya. Jangan biarkan siapa pun menghalangimu.”
Pendekar Bayangan Kedua berlutut satu lutut, mengepalkan tangan di dada.
“Baik, Paduka Putri. Dengan nyawa saya sendiri, obat ini akan sampai.”
Tanpa menunggu perintah lebih lanjut, ia lenyap ke dalam rimbunnya hutan, menyatu dengan bayangan dan angin malam.
Putri Dyah Sekar Tanjung menatap kepergiannya, lalu menggenggam dadanya sendiri, berdoa dalam diam—
agar cahaya yang masih tersisa di dunia ini tidak padam sebelum waktunya.
Chapter 74 Bayangan yang Mengatur Langkah

Di kedalaman gua batu yang diselimuti cahaya redup, Ki Surya Dahana berdiri di hadapan bola kristal yang melayang perlahan di udara. Di dalamnya terpantul bayangan Isidore—duduk bersila, napasnya berat, dikelilingi para ksatria Mythopia yang berusaha menenangkan aliran tenaga dalamnya yang menyimpang.
Sorot mata Ki Surya Dahana mengeras.
“Energinya goyah,” gumamnya lirih, hampir seperti doa yang tercemar kesenangan tersembunyi.
“Kekuatan besar selalu menuntut harga.”
Ia mengangkat tongkatnya sedikit, kristal itu bergetar, lalu padam perlahan.
Ki Surya Dahana berbalik, jubahnya menyapu lantai batu.
“Bersiaplah,” perintahnya dingin.
“Sebentar lagi kita akan kedatangan tamu.”
Panggilan itu segera mengumpulkan para kepala suku—Orkaghor, Lorendis, Mhezzrak, dan Vorthax—di ruang pertemuan gua yang dikelilingi pilar batu kuno. Api obor menari liar, memantulkan bayangan mereka di dinding seperti makhluk-makhluk purba yang sedang berbisik.
“Isidore melemah,” ujar Lorendis sambil memainkan kipas beracunnya.
“Inilah saat yang tepat.”
Namun Vorthax menancapkan pedang Nagarastra ke tanah, suaranya berat seperti gemuruh.
“Jangan meremehkan ksatria Mythopia. Binatang terluka justru paling berbahaya.”
Ki Surya Dahana mengangkat tangan, menghentikan perdebatan.
“Kita tidak akan menyerang secara membabi buta. Kita akan menyambut mereka… di tanah yang telah kita pilih.”
Senyum tipis terlukis di wajahnya—senyum seseorang yang telah menyiapkan papan catur jauh sebelum bidak digerakkan.
Di Balik Formasi Penjagaan
Jauh dari gua itu, di bawah naungan pepohonan tua hutan Sinabung, Pandika berjongkok rendah di atas punggung Maung Kucing—yang kini berukuran sebesar serigala raksasa. Hidung makhluk itu bergetar, matanya menyipit tajam.
“Hentikan,” gumam Maung Kucing.
“Aku mencium darah… dan sihir. Banyak.”
Pandika menatap ke depan. Di sana terbentang formasi penjagaan yang ketat—lingkaran simbol tanah dan tulang, dijaga makhluk-makhluk bersenjata dan aura gelap yang saling bertaut, seperti jaring laba-laba tak kasatmata.
Ia menghela napas pelan.
“Kalau kita menghancurkan formasi ini,” bisiknya,
“kita pasti akan ketahuan.”
Tangannya mengepal, dilema membebani pikirannya.
“Dan kita belum tahu… musuh seperti apa yang sedang menunggu.”
Maung Kucing mendengus pelan.
“Kadang, anak manusia, yang paling berbahaya bukan yang terlihat,
tapi yang membiarkanmu masuk.”
Pandika terdiam.
Di hadapannya ada pilihan: menyerbu dan membahayakan semua sandera—
atau menunggu, sementara waktu terus mengalir menuju sesuatu yang lebih gelap.
Dan di balik kabut dan batu, perang yang belum diumumkan perlahan membuka matanya.
Chapter 75 Hujan rintik rintik digunung Sinabung 

Sore itu hujan rintik-rintik turun perlahan, seakan langit sendiri enggan melukai bumi. Daun-daun lebar pepohonan tua menahan air hujan, menjatuhkannya setetes demi setetes ke tanah yang gelap dan lembap. Di lereng Gunung Sinabung, udara kian membeku; kabut turun menebal, merayap di antara batang-batang pohon seperti makhluk hidup yang mencari jalan.
Isidore menarik napas dalam-dalam. Saat ia menghembuskannya, asap putih keluar dari hidung dan bibirnya, menari sesaat sebelum lenyap ditelan kabut. Tubuhnya masih terasa berat, namun aliran tenaga di dalam dirinya telah kembali menyatu—tidak lagi liar, tidak lagi berontak.
Ia membuka mata.
“Aku sudah lebih baik,” ujarnya pelan, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada yang lain.
“Dan kita tidak boleh menunda.”
Ingatan akan para sandera—anak-anak, orang tua, dan jiwa-jiwa tak bersalah—mengetuk hatinya seperti palu sunyi. Kejahatan yang bersarang di Sinabung harus dipatahkan, sebelum malam turun sepenuhnya dan kegelapan mengambil lebih banyak korban.
Di sisi mereka, Rakajati berlutut dan menyentuhkan telapak tangannya ke tanah. Akar-akar pohon di sekeliling bergetar halus, lalu bergerak perlahan, menyibak lumut dan tanah basah. Dari belitan akar itu terbentuk sebuah jalur sempit, seakan hutan sendiri membuka rahasia yang telah lama disembunyikannya.
Rakajati bangkit, wajahnya serius.
“Tanah telah berbicara,” katanya dengan suara rendah.
“Jalan ini… mengarah ke tempat persembunyian Ki Surya Dahana.”
Akar-akar itu menunjuk ke arah yang diselimuti kabut paling pekat—ke sebuah lembah sunyi di mana cahaya enggan menetap.
Para ksatria saling berpandangan. Tak ada sorak, tak ada kata berlebihan.
Mereka tahu, langkah berikutnya bukan sekadar perjalanan, melainkan awal dari benturan kehendak yang akan menentukan nasib Sinabung—dan mungkin, nasib Mythopia itu sendiri.
Maka, di bawah hujan yang terus berbisik dan kabut yang menutup pandangan,
mereka melangkah maju, mengikuti jalan akar yang hanya berani dibuka bagi mereka yang siap menghadapi kegelapan.
Chapter 76 ksatria mythopia saling menyatukan kekuatan 

Para ksatria menyatukan kehendak dan kekuatan, berdiri melingkar di bawah kanopi hutan yang menggelap. Tanah bergetar halus ketika energi mereka bangkit, dan udara di sekeliling berdesir seakan dunia menahan napas.
Surya Wikrama mengangkat pedangnya.
Dari bilahnya memancar cahaya emas, hangat namun tegas, seperti matahari pertama yang pernah menyinari dunia.
Di sisinya, Pangreksa menutup mata. Dari tubuhnya mengalir cahaya putih murni, bening dan dingin, laksana salju abadi yang tak tersentuh noda.
Bayu Anggana melangkah maju, kedua lengannya terentang. Seketika pusaran angin lahir di sekelilingnya, menderu kencang, mencabut daun dan ranting, membentuk lingkaran pelindung yang tak kasatmata.
Dari balik kabut, terdengar tarikan napas panjang.
Itu adalah Bhra Anuraga. Saat ia menghembuskannya, nafas api naga menyembur, merah membara, membuat udara bergetar oleh panas purba.
Sagara Putra mengangkat telapak tangannya ke langit. Cahaya biru muncul, beriak seperti laut dalam, membawa ketenangan sekaligus kedahsyatan samudra yang tak terukur.
Lalu, dengan dentuman yang mengguncang bumi, Guntur Wisesa memanggil kekuatan langit.
Sebuah kilat raksasa menyambar, membelah pepohonan dan awan. Langit kian mendung, gelap menggulung, seakan badai tunduk pada panggilannya.
Di tengah pusaran kekuatan itu, Ksatria Cheon Myeong muncul—hadirnya sunyi namun terasa agung, seperti bayangan pedang para dewa di masa silam.
Ia menatap Isidore.
“Perhatikan baik-baik,” ucapnya tenang.
“Inilah langkah mendominasi—jalan bagi mereka yang memegang kehendak pedang.”
Dalam sekejap mata, ia mengajarkan Gerakan Dewa Pedang:
tahap pertama hingga kelima—
langkah kaki, aliran napas, niat, dan tebasan yang menyatu dengan jiwa.
Isidore mengikuti.
Tak butuh waktu lama.
Meski keringat mengalir dan napasnya memburu, ia menguasai semua jurus itu—belum sempurna, namun cukup untuk membuat udara bergetar setiap kali ia bergerak.
Melihat kesiapan mereka, Rakajati menancapkan tangannya ke batang pohon raksasa di hadapan mereka. Kayu tua itu berderak, lalu terbuka, memperlihatkan lorong hidup di dalamnya—gelap, namun aman.
“Masuklah,” ujar Rakajati.
“Di sanalah kita bersiap.”
Satu per satu, para ksatria melangkah ke dalam batang pohon, meninggalkan hutan yang kini diselimuti badai.
Di balik kayu dan akar purba itu, takdir sedang diasah, dan perang yang tak terelakkan menunggu saatnya untuk dimulai.
Chapter 77 pertemuan dengan para kepala suku

Akar-akar purba membuka jalan terakhir.
Dari dalam perut bumi, para ksatria Mythopia melangkah keluar ke sebuah lembah batu yang tersembunyi—markas Ki Surya Dahana. Api unggun hitam menyala tanpa asap, dan simbol-simbol terlarang berpendar di dinding gua, seolah batu itu sendiri berdoa pada kegelapan.
Di sana mereka menunggu.
Para kepala suku—tubuh mereka telah berubah.
Urat-urat hitam menjalar di kulit, mata menyala dengan cahaya asing, dan senjata mereka bergetar oleh kekuatan gelap yang dipaksakan ke dalam jiwa.
Tak ada teriakan perang.
Tak ada aba-aba.
Pertempuran meledak dalam keheningan.
Bayu Anggana menjadi angin badai, menghantam barisan musuh dan melemparkan tubuh-tubuh berat seakan daun kering.
Bhra Anuraga beradu api dengan darah hitam, setiap tebasannya disambut raungan makhluk yang bukan lagi sepenuhnya manusia.
Sagara Putra memanggil air dari dalam tanah; gelombang biru menghantam dinding gua dan membekukan langkah lawan.
Guntur Wisesa menjatuhkan kilat demi kilat, namun kegelapan menelan cahaya itu, menolak untuk runtuh.
Pangreksa menahan serangan dengan es perak, retak—namun tak pernah pecah.
Rakajati mengikat musuh dengan akar hidup, hanya untuk melihatnya disobek oleh kekuatan gelap yang meraung marah.
Pertarungan itu tidak cepat.
Tidak pula mudah.
Setiap musuh yang jatuh bangkit kembali, dipaksa berdiri oleh kehendak yang bukan miliknya.
Setiap ksatria Mythopia terhuyung, bangkit lagi, bertahan oleh sumpah lama yang tak pernah ditulis.
Di tengah kekacauan itu, Isidore bergerak seperti cahaya yang mencari celah.
Pedangnya menari—gerakan dewa pedang masih belum sempurna, namun cukup untuk membelah bayangan dan menorehkan luka pada kegelapan itu sendiri.
Waktu berlalu tanpa hitungan.
Darah, cahaya, dan bayangan bercampur.
Lalu—
Langit gua bergetar.
Sebuah tongkat menghantam tanah.
Gelombang kekuatan menyapu medan perang dan memaksa semua langkah terhenti.
Dari balik tirai hitam, Ki Surya Dahana muncul.
Wajahnya tenang, terlalu tenang, namun matanya menyimpan badai keraguan dan ambisi. Jubahnya berkibar tanpa angin.
“Cukup,” ucapnya, suaranya menggema seperti perintah pada dunia.
“Pertempuran ini akan menghancurkan segalanya.”
Para kepala suku berhenti bergerak.
Para ksatria Mythopia menegang.
Isidore melangkah maju.
Pedangnya terangkat, napasnya berat, matanya menyala oleh tekad yang tak goyah.
“Tidak,” katanya, jelas dan dingin.
“Ini tidak akan berhenti.”
Ia menatap Ki Surya Dahana tanpa gentar.
“Selama kegelapan masih berdiri…
selama satu dari kita belum tumbang dan mengakui kekalahan…
pertarungan ini akan terus berlanjut.”
Keheningan jatuh, lebih berat dari batu.
Bahkan api hitam pun meredup sejenak.
Ki Surya Dahana menatap Isidore lama—
seolah untuk pertama kalinya ia melihat putra Raja Itharius bukan sebagai pewaris,
melainkan sebagai takdir yang tak bisa dihindari.
Dan di dalam diam itu, dunia tahu:
perang sejati baru saja dimulai.
Chapter 78 pandika membebaskan sandera

Di balik pepohonan tua lereng Gunung Sinabung, Pandika dan Si Maung bersembunyi dalam bayang-bayang.
Namun alam tak lagi sunyi.
Langit menggelap dengan cepat, awan berputar seperti kawanan burung hitam yang terusir dari sarangnya. Angin menderu membawa hawa dingin yang menggigit tulang, dan petir putih membelah angkasa dengan jeritan yang memekakkan telinga, menyambar pepohonan hingga hancur menjadi arang.
Si Maung mengangkat kepalanya, bulu tengkuknya berdiri.
“Ini bukan badai biasa,” geramnya pelan.
“Ini tanda. Para ksatria Mythopia telah memulai peperangan.”
Ia mengendus udara, napasnya berat.
“Aku mencium amarah mereka… cahaya, darah, dan tekad bercampur di dalam sana.”
Pandika mengepalkan tangannya, wajahnya menegang.
“Bagaimana mungkin mereka sudah dua langkah di depan kita?” gumamnya.
“Baru saja kita mengendap, kini dunia sudah berguncang.”
Si Maung menyeringai, memperlihatkan taringnya.
“Tak perlu berpikir panjang lagi,” katanya.
“Jika perang telah dimulai, maka diam adalah kematian.”
Pandika mengangguk.
Ia melangkah maju dan mencabut pedangnya. Cahaya lembut seperti sinar bulan mengalir di bilahnya.
Dengan napas panjang, ia mulai menggerakkan tubuhnya—
Tarian Bulan.
Gerakannya perlahan, indah, dan penuh perhitungan. Setiap langkah seakan mengikuti irama langit, setiap ayunan pedang membelah udara dengan kilau perak. Namun waktu berlalu terlalu lama.
Si Maung mendengus kesal.
“Kau menari terlalu lama!”
Tanpa menunggu, tubuhnya membesar sepenuhnya.
Dengan raungan yang mengguncang tanah, Si Maung menerjang formasi pertahanan—
patok-patok sihir, simbol terlarang, dan penghalang batu—
semuanya hancur luluh oleh cakarnya, tercabik seperti dedaunan rapuh.
Ketika Pandika menyelesaikan tarian terakhirnya dan menjejakkan kaki dengan mantap, ia terdiam.
Formasi pertahanan telah menjadi puing-puing tak berbentuk.
“Ah…” gumamnya, sedikit bingung.
Namun Pandika tak ingin tarian sucinya menjadi sia-sia.
Ia mengangkat pedangnya tinggi-tinggi.
Seluruh cahaya putih yang telah ia kumpulkan dalam tarian itu mengalir ke satu titik.
Dengan satu tebasan ke depan—
BOOM!
Pintu batu gua di hadapan mereka meledak berkeping-keping, hancur oleh cahaya perak yang menyilaukan.
Debu mereda.
Di balik reruntuhan itu terbentang lorong bawah tanah—
dan di sanalah mereka melihatnya.
Para sandera.
Orang tua, perempuan, dan anak-anak, terkurung dalam sel-sel batu, wajah mereka pucat oleh ketakutan dan kelelahan.
Para penjaga berusaha melawan, namun sia-sia.
Pandika bergerak cepat, setiap tebasannya melumpuhkan tanpa membunuh.
Sementara itu, Si Maung mengamuk—
mencabik barisan prajurit hingga mereka berhamburan dalam teror.
Para master ilmu hitam yang tersisa tak berani bertarung.
Melihat darah dan taring, mereka berlari tunggang-langgang ke dalam kegelapan, meninggalkan segalanya.
Lorong itu akhirnya sunyi.
Hanya napas para sandera dan gema air dari dinding gua yang tersisa.
Si Maung menoleh ke Pandika.
“Utangmu bertambah,” katanya santai.
“Bukan sekilo. Dua kilo ikan segar.”
Pandika tersenyum lelah, namun matanya lega.
“Kau akan mendapatkannya,” jawabnya.
“Hari ini… kita menyelamatkan banyak nyawa.”
Dan di kejauhan, gema perang terus bergetar
Chapter 79 Para sandera berhasil melarikan diri 
Kekacauan di dalam perut gunung semakin menjadi-jadi.
Dari kejauhan terdengar dentuman petir, jeritan makhluk kegelapan, dan gemuruh tanah yang bergetar seolah dunia hendak runtuh. Cahaya merah dan biru silih berganti memantul di dinding gua, seperti kilatan perang para dewa.
Pandika berdiri di hadapan deretan sel batu. Dengan satu ayunan pedang yang terukur, palang-palang besi terbelah, jatuh ke tanah dengan bunyi nyaring.
“Kalian bebas,” ucapnya lantang namun tenang.
“Jangan berpencar. Ikuti kucing besar itu—dia akan membawa kalian ke tempat yang aman.”
Si Maung berdiri di depan lorong, tubuhnya menjulang seperti penjaga gerbang kuno. Matanya menyala lembut, namun taringnya mengingatkan bahwa ia bukan makhluk yang boleh diremehkan.
“Cepat,” geramnya pelan.
“Aku tak bisa menjamin dinding ini akan tetap berdiri lama.”
Para sandera, dengan tubuh lemah dan mata penuh ketakutan, mulai bergerak. Anak-anak digendong, orang tua ditopang. Harapan perlahan menggantikan putus asa.
Namun Pandika tidak ikut bergerak.
Matanya menyapu wajah-wajah satu per satu.
“Tunggu,” katanya.
“Apakah di antara kalian ada yang bernama Mei Mei?”
Sejenak sunyi menyelimuti lorong.
Lalu, dari barisan belakang, seorang gadis muda melangkah ragu. Wajahnya pucat, rambutnya tergerai kusut, namun matanya masih menyimpan cahaya keberanian.
“I… iya,” jawabnya lirih.
“Itu saya.”
Pandika menghembuskan napas panjang, seolah beban berat terangkat dari dadanya.
“Syukurlah,” katanya tulus.
“Kau masih hidup. Orang tuamu di desa sangat mengkhawatirkanmu. Mereka menunggu kepulanganmu setiap hari.”
Mata Mei Mei berkaca-kaca. Tangannya gemetar, namun ia mengangguk.
Pandika menunduk sedikit, menatapnya sejajar.
“Sekarang dengarkan aku baik-baik,” ujarnya lembut namun tegas.
“Ikuti kucing besar itu. Jangan menoleh ke belakang, apa pun yang kau dengar. Di luar sana ada jalan menuju keselamatan.”
Si Maung menoleh, ekornya mengibas.
“Naik ke punggungku jika kau tak sanggup berjalan,” katanya singkat.
Mei Mei mengangguk lagi, lalu berbalik mengikuti rombongan.
Sebelum pergi, ia menoleh sesaat pada Pandika.
“Terima kasih, Tuan Ksatria…”
Pandika hanya tersenyum tipis.
“Pergilah. Hidupmu lebih berharga daripada perang ini.”
Saat para sandera menghilang di lorong gelap menuju cahaya, Pandika berdiri sendiri di ambang kehancuran.
Ia mengencangkan genggaman pada pedangnya.
Di kejauhan, perang semakin mengamuk—
dan ia tahu, tugasnya belum selesai.
Chapter 80 pandika menghadapi lorendis

Pandika berdiri di mulut gua hingga bayangan terakhir para sandera lenyap bersama si Maung ke balik pepohonan basah. Ia menghembuskan napas panjang.
Tak satu pun tertinggal.
Tugas itu telah selesai.
Kini, hanya satu jalan tersisa—kembali ke jantung badai.
Ia melangkah menuju medan perang, tempat tanah bergetar oleh benturan kekuatan dan udara dipenuhi bau besi, darah, serta sihir gelap. Di antara kabut dan reruntuhan batu, muncullah sesosok tinggi berjubah kelam: Lorendis, kepala suku Rakayan, si licik pemutar maut.
Wajah Lorendis memerah oleh amarah.
Matanya menyala seperti bara.
“Jadi kau,” desisnya.
“Ksatria pengganggu yang membuat seluruh penjagaku pingsan… dan membiarkan mangsaku kabur.”
Ia tertawa kecil—tawa yang dingin dan beracun.
“Sendirian pula. Kau sungguh berani… atau bodoh.”
Lorendis mengangkat tangannya. Dari balik jubahnya keluar kipas hitam bertepi perak, berkilau oleh racun yang tak terlihat. Saat kipas itu terbuka, udara di sekitarnya bergetar, seolah jarum-jarum kematian telah menunggu perintah.
Pandika tidak menjawab.
Ia menutup mata sejenak.
Dalam benaknya terngiang suara gurunya, lama terkubur oleh perjalanan dan peperangan:
“Pedang bukanlah alat kemarahan, Pandika.
Ia adalah tarian—dan hanya mereka yang menari dengan hati tenang yang dapat memotong takdir.”
Matanya terbuka.
“Sudah waktunya,” bisiknya.
“Aku mencoba jurus itu.”
Ia melangkah maju—namun bukan seperti prajurit.
Gerakannya mengalir, ringan dan berirama, seperti penari yang menyatu dengan angin dan tanah.
Lorendis terbahak.
“Apa ini?” ejeknya.
“Tarian penghibur sebelum mati?”
Dengan satu kibasan kipas, puluhan jarum beracun melesat seperti hujan maut. Udara menjerit saat jarum-jarum itu membelah ruang.
Namun Pandika berputar.
Tubuhnya melengkung, melayang, lalu meloncat dengan salto ke belakang, tumitnya hampir menyentuh tanah, jubahnya berputar mengikuti irama tak kasatmata. Jarum-jarum itu hanya menyentuh bayangan.
Belum sempat Lorendis menarik napas, Pandika sudah melesat maju.
Dengan kedua tangan, ia mengangkat pedangnya tinggi-tinggi—
lalu menghantamkannya ke lantai gua.
BRAAAAM—!
Tanah retak. Batu ambruk.
Gelombang energi putih memancar seperti kilat yang dibekukan.
Lorendis tersentak, matanya membelalak.
Ia melompat mundur, nyaris terjerembap ke dalam rekahan tanah yang menganga.
Untuk pertama kalinya, tawanya terhenti.
Di antara debu dan runtuhan, Pandika berdiri tegak.
Pedangnya bergetar pelan, seolah ikut merasakan panggilan takdir.
“Sekarang,” katanya tenang.
“Giliranmu menari.”
Chapter 81 Pertarungan pandika dan lorendis 

Kabut debu menggantung di udara gua seperti tirai perang. Cahaya kilat dari luar sesekali menembus celah batu, menerangi dua sosok yang kini saling berhadapan—Pandika, tenang bagai air dalam, dan Lorendis, gelap dan bergetar oleh amarah.
Lorendis mengangkat kipas racunnya tinggi-tinggi. Dengan teriakan melengking, ia memutar tubuhnya, dan ratusan jarum beracun melesat serentak, membentuk pusaran maut yang menutup segala jalan.
Namun Pandika bergerak lebih dulu.
Langkahnya ringan, nyaris tak menyentuh tanah. Ia berputar ke samping, meluncur di antara celah jarum seperti bayangan bulan di permukaan air. Setiap gerakannya mengalir—satu putaran, satu lompatan, satu tebasan yang tidak langsung menyerang, melainkan mengubah ruang.
Jarum-jarum itu menancap ke dinding gua, mendesis, melelehkan batu—
namun tak satu pun menyentuh Pandika.
“Mustahil…!” desis Lorendis, suaranya mulai retak.
Pandika maju.
Pedangnya berkilau putih pucat, seakan memantulkan cahaya bulan yang tak ada di langit.
Ia memulai Tarian Bulan sepenuhnya.
Setiap langkah adalah irama,
setiap ayunan adalah gema.
Pedangnya menyapu udara—
BUUM!
Satu tebasan menghantam pilar batu. Pilar itu retak dan runtuh, separuh dinding gua ambruk dengan suara menggelegar. Tanah bergetar, stalaktit berjatuhan seperti hujan batu.
Lorendis terhuyung. Ia mencoba membuka kipasnya lagi, melepaskan jarum-jarum terakhir—namun Pandika sudah berada terlalu dekat.
Dengan putaran cepat, Pandika menghindar, lalu menghentakkan kaki ke lantai dan menghantamkan pedangnya ke tanah dengan seluruh kekuatan yang telah ia kumpulkan sejak awal pertarungan.
DOOOOOM—!
Lantai gua pecah terbuka. Gelombang kejut menyebar, mengoyak udara dan batu. Reruntuhan beterbangan ke segala arah.
Lorendis terlempar ke belakang, tubuhnya menghantam dinding gua. Batu-batu besar runtuh menimpanya, menghujam bahu dan kakinya. Ia terjatuh berlutut, kipasnya terlepas dari genggaman, berderak di antara puing.
Debu perlahan turun.
Pandika berdiri di tengah kehancuran, napasnya teratur, matanya tajam namun tidak dipenuhi kebencian.
Lorendis terbatuk, darah mengalir dari sudut bibirnya. Matanya menatap Pandika—
bukan lagi dengan ejekan,
melainkan dengan ketakutan yang telanjang.
“Aku… kepala suku Rakayan…” gumamnya.
“Aku… tak seharusnya kalah…”
Pandika mengangkat pedangnya, ujungnya menunjuk lurus ke arah Lorendis.
“Bukan aku yang mengalahkanmu,” katanya pelan namun bergema.
“Keserakahanmulah yang menjatuhkanmu.”
Dinding gua yang tersisa terus berderak, seolah tempat itu sendiri tak lagi sanggup menahan beban dosa dan darah.
Dan di antara runtuhan itu,
nasib Lorendis kini berada di ujung pedang Pandika—
menunggu apakah bulan akan mengakhiri tarian,
atau memberi satu napas terakhir sebelum gelap abadi.
Chapter 82 kebangkitan ksatria kegelapan 

Saat ujung pedang Pandika hampir menyentuh leher Lorendis—
bum!
Ledakan energi gelap meletup dari kedalaman gua, jauh lebih dalam dari ruang pertarungan mereka. Tanah bergetar hebat. Dinding gua menjerit, retakan menjalar seperti urat hitam. Debu dan kerikil beterbangan, memadamkan cahaya sesaat.
Pandika terhuyung, naluri pejuangnya berteriak satu hal:
sesuatu telah bangkit.
Ia menoleh sekilas ke Lorendis—kepala suku itu tersenyum miring di balik darah dan debu.
“Sudah terlambat…” gumamnya.
Tanpa membuang waktu, Pandika berlari ke arah ledakan. Ia mengikuti aliran air bawah tanah, melompat dari batu ke batu, menyusuri lorong sempit yang semakin dingin dan gelap. Udara berubah—lembap, berat, dan berbau kematian lama.
Lalu ia tiba.
Sebuah ruang gua raksasa terbentang di hadapannya. Di tengahnya, lima peti mati batu hitam berdiri melingkar, dipenuhi ukiran kutukan dan simbol kuno. Retakan cahaya ungu gelap menyelinap keluar dari sela-sela tutupnya.
Satu per satu—
KRRAAKK—
Tutup peti mati terbuka.
Dari dalamnya bangkit lima ksatria kegelapan.
Tubuh mereka tinggi dan kekar, dibalut zirah hitam kusam yang tampak hidup, berdenyut seperti daging. Mata mereka menyala suram—merah, ungu, dan hijau pucat. Setiap langkah mereka membuat tanah mengerang.
Para kepala suku yang tersisa berlutut di kejauhan, tertawa dan bersorak.
“Lihatlah!” teriak salah satu dari mereka dengan pongah.
“Inilah ksatria sejati! Kekuatan mereka melampaui ksatria Mythopia!”
Masing-masing ksatria kegelapan mengangkat senjatanya:
Pedang raksasa berasap hitam,
Tombak berduri berdenyut,
Kapak bermata ganda yang meneteskan cairan gelap,
Rantai berduri yang bergetar sendiri,
Dan satu sosok terakhir—tanpa senjata, namun auranya paling menyesakkan.
Mereka serentak melepaskan aura suram.
Udara pecah. Air sungai bawah tanah beriak liar. Batu-batu di langit-langit gua runtuh.
Lalu mereka berteriak.
Suara itu bukan sekadar teriakan perang—
ia adalah jeritan kematian dari ratusan jiwa yang pernah mereka bunuh.
Telinga Pandika berdengung. Lututnya hampir goyah. Napasnya tercekat.
Untuk pertama kalinya sejak ia mengangkat pedang—
Pandika merasa kecil.
Aku tidak akan sanggup…
Satu saja mungkin bisa kuhadapi… tapi lima…
Tangannya mencengkeram gagang pedang lebih erat, namun kali ini bukan karena kemarahan—
melainkan karena ketakutan yang jujur.
Ia tahu satu hal dengan pasti:
jika para ksatria kegelapan ini keluar dari gua,
Mythopia akan tenggelam dalam malam tanpa akhir.
Dan Pandika—
sendiri di kegelapan itu—
harus memilih:
bertahan, melarikan diri, atau mencari cara lain untuk melawan sesuatu yang bahkan pedang pun gentar menghadapinya.
Chapter 83 pertemuan kawan lama

“HENTIKAN, ISIDORE!”
Suara Ki Surya Dahana menggema menembus dentuman senjata dan teriakan perang. Tongkatnya menghantam tanah, menciptakan gelombang penahan yang memisahkan dua kubu sesaat.
“Jika ini diteruskan, Mythopia tak hanya kehilangan tanah—
tapi juga jiwanya.”
Namun Isidore tak menoleh.
Matanya menyala—bukan gelap, bukan terang, melainkan campuran berbahaya dari keduanya. Energi di sekeliling tubuhnya berdenyut tak stabil, tanah di bawah kakinya retak-retak.
“Jika aku berhenti sekarang,” ucap Isidore dingin,
“mereka akan bangkit kembali dan membunuh lebih banyak yang tak bersalah.”
Ia melangkah maju.
Para ksatria Mythopia mengikutinya—tak satu pun mundur.
Dan saat itulah…
langit runtuh.
Udara membeku. Cahaya tersedot ke satu titik di tengah medan perang. Dari pusaran kegelapan itu, lima sosok melangkah keluar—zirah mereka asing, aura mereka salah.
Pangreksa terhenti. Napasnya tercekat.
“…tidak…”
“Itu… itu mustahil…”
Sosok pertama melangkah maju.
Bayangannya tidak mengikuti tubuhnya—justru menyebar dan menjalar ke bayangan para ksatria Mythopia.
Candra Wisesa — Ksatria Bayangan Gerak.
Saat ia mengangkat tangannya perlahan, bayangan Pangreksa di tanah membeku.
Sekejap kemudian—tubuh Pangreksa ikut terkunci, tak mampu bergerak satu jari pun.
“Bayanganmu selalu setia,” ujar Candra tenang.
“Sayang sekali… sekarang ia setia padaku.”
Sosok kedua menghantam tanah dengan langkah berat. Suara retak—krek—krek terdengar di udara, seperti tulang yang dipatahkan paksa.
Raksapati Mahodra — Ksatria Tulang.
Tanpa menyentuh siapa pun, beberapa ksatria berteriak kesakitan. Lengan mereka terpuntir ke arah yang mustahil. Dari tubuh Raksapati sendiri, tulang-tulang mencuat keluar, menyusun zirah putih pucat yang berkilau dingin.
Kabut turun tiba-tiba.
Basah. Dingin. Masuk ke paru-paru.
Tirta Samirana — Ksatria Kabut.
Ia tak terlihat—hingga jeritan terdengar.
Seorang ksatria Mythopia terjatuh, memegangi lehernya, napasnya tercekik oleh tangan yang tak pernah terlihat.
Tanah mulai memerah.
Setetes darah jatuh—lalu bergerak sendiri.
Prawira Sangkala — Ksatria Darah.
Setiap luka yang terbuka menjadi miliknya. Darah di tanah membentuk simbol, jerat, dan duri hidup. Medan perang menjadi perangkap bernapas.
Dan terakhir—
tanah bertekuk lutut.
Ksatria Mythopia terhempas ke tanah seolah gravitasi dunia berubah arah.
Jagad Wiyasa — Ksatria Gravitasi.
Ia tidak bergerak cepat.
Ia tidak perlu.
Dunia sendirilah yang menyeret musuh ke hadapannya.
Bhra Anuraga mengaum marah. Nafas api naga keluar dari mulutnya, membakar udara.
“KALIAN SUDAH MATI!”
“MENGAPA KAU GANGGU MEREKA YANG TELAH ISTIRAHAT?!
BIARKAN MEREKA TENANG DI ALAM SANA!”
Surya Wikrama melangkah maju, pedangnya bersinar emas menyilaukan. Cahaya pemurnian menyapu kelima ksatria kegelapan, mencoba menyentuh jiwa yang tersisa.
Namun…
cahaya itu retak.
Jiwa-jiwa itu menolak.
Candra Wisesa tersenyum—senyum yang pernah dikenal Pangreksa, senyum seorang sahabat.
“Pemurnian?” katanya pelan.
“Kami sudah memilih.”
Ia mengangkat tangannya, dan bayangan semua yang hadir bergetar.
“Kalian harus membunuh kami sekali lagi,” lanjutnya.
“Untuk pertemuan yang indah ini.”
Isidore akhirnya berbicara.
Suaranya bergetar—bukan karena takut,
melainkan karena duka yang dipendam paksa.
“Jika ini satu-satunya jalan…”
“maka aku yang akan menanggung dosanya.”
Langkahnya maju satu tapak.
Dan pada detik itu—
perang Mythopia berubah dari perang wilayah
menjadi perang jiwa.
Chapter 84 pangreksa bertemu kawan lama

Bayangan Pangreksa masih terkunci di tanah.
Kakinya gemetar, bukan karena takut, tapi karena kenangan.
Candra Wisesa berdiri beberapa langkah di depannya, pedangnya belum terhunus. Wajah itu—tak berubah sejak hari mereka berlatih di halaman batu Mythopia, sejak malam terakhir sebelum Candra gugur melindungi desa perbatasan.
“Kau selalu lambat bereaksi, Pang,”
ucap Candra ringan, hampir bercanda.
“Bayanganmu selalu tertinggal.”
Pangreksa menggeram. Cahaya putih dari tubuhnya berkedip tak stabil.
“Itu karena aku selalu menunggumu,” balasnya lirih.
“Agar kita bergerak bersama.”
Candra terdiam sesaat.
Bayangan di tanah bergetar—mengendur sedikit.
Namun kemudian mengeras kembali.
“Itu dulu,” katanya dingin.
“Sekarang aku bergerak sendiri.”
Candra mengangkat tangan.
Bayangan Pangreksa tertarik paksa, menekan tubuhnya ke tanah. Retakan es merambat dari telapak kaki Pangreksa ke dada—dingin yang bukan berasal dari suhu, melainkan keputusasaan.
“Menyerahlah,” ujar Candra.
“Bayanganmu sudah memilih.”
Pangreksa menutup mata.
Dalam gelap itu, ia melihat kilasan masa lalu:
dua ksatria muda tertawa di tengah salju, berbagi roti kering, bersumpah akan mati sebagai penjaga Mythopia.
“Tidak…”
Pangreksa membuka mata, dan cahaya putih menyala penuh.
“Bayanganku tidak memilih.”
“AKU YANG MEMILIHNYA.”
Ia menghantamkan pedangnya ke tanah.
Bukan ke Candra—
melainkan ke bayangannya sendiri.
Cahaya putih menyambar, membakar bayangan di tanah hingga terpisah dari kendali Candra. Rasa sakit menghantam Pangreksa—urat-urat energinya terkoyak, darah mengalir dari sudut bibir.
Namun tubuhnya bebas.
Candra mundur satu langkah. Untuk pertama kalinya—matanya melebar.
“Kau memutus ikatan bayangan…”
“Itu akan memendekkan umurmu.”
“Lebih baik hidup singkat,” jawab Pangreksa sambil berdiri,
“daripada hidup tanpa kehendak.”
Mereka saling menatap.
Dua sahabat.
Dua jalan yang tak mungkin bertemu lagi.
Candra akhirnya mencabut pedangnya. Bayangannya menjalar seperti sayap hitam di belakangnya.
“Kalau begitu,” katanya pelan,
“biarkan aku mengakhirinya dengan layak.”
Pangreksa mengangkat pedangnya, cahaya putih membentuk lingkaran es di sekelilingnya.
Pedang bertemu.
Benturan pertama menghancurkan tanah.
Benturan kedua memecah udara.
Benturan ketiga—membuat bayangan dan cahaya saling menelan.
Candra bergerak cepat—bayangannya menyerang lebih dulu, mengikat kaki Pangreksa. Namun Pangreksa memutar pedangnya, menciptakan cahaya murni tanpa bayangan—ruang kosong tempat kegelapan tak bisa berpegangan.
Candra terhuyung.
“Kau selalu menemukan cara…”
gumamnya, suaranya retak.
“Itulah yang membuatku percaya padamu.”
Pangreksa menerjang.
Pedangnya menembus dada Candra—namun bukan ke jantung.
Ia menusuk tepat di pusat bayangan.
Cahaya putih menyebar, memisahkan jiwa Candra dari belenggu kegelapan. Bayangan hitam runtuh seperti abu.
Candra terjatuh berlutut.
Wajahnya kembali tenang. Senyum kecil muncul—senyum yang lama hilang.
“Terima kasih…”
“Kau menungguku… sampai akhir.”
Tubuh Candra berubah menjadi serpihan cahaya kelabu, naik ke udara seperti salju yang mencair.
Pangreksa berlutut di tanah.
Pedangnya tertancap, tangannya gemetar.
Ia tidak menang.
Ia melepaskan.
Di kejauhan, Isidore menyaksikan semuanya.
Dan ia sadar—
setiap kemenangan hari ini
akan selalu dibayar dengan kehilangan.
Chapter 85 Pangreksa pingsan 

Cahaya putih yang tadi menyala kini meredup.
Pangreksa masih berlutut, pedangnya tertancap di tanah yang retak. Salju halus—entah dari es atau debu cahaya—jatuh perlahan di sekelilingnya.
Napasnya tersengal.
Setiap tarikan udara terasa seperti pecahan kaca di paru-parunya.
Krek…
Suara itu bukan dari tanah.
Itu dari dalam tubuhnya sendiri.
Retakan es merambat di sepanjang lengannya, bukan membeku—melainkan mengunci aliran energi. Pemutusan bayangan telah merusak jalur keseimbangan yang selama ini menahan kekuatan Pangreksa.
Ia mencoba berdiri.
Kakinya gagal menopang.
Tubuhnya ambruk ke samping.
“Pangreksa!”
teriak Bhra Anuraga, api di tubuhnya langsung padam setengah langkah sebelum mendekat.
Surya Wikrama menoleh tajam. Cahaya emasnya bergetar—ia tahu tanda itu.
“Jangan sentuh dia sembarangan,” ucap Surya rendah.
“Bayangannya telah terputus… tapi luka spiritualnya masih terbuka.”
Pangreksa terbaring telentang.
Matanya terbuka, namun pandangannya kosong—seolah melihat dua dunia sekaligus.
“Dingin…”
bisiknya.
“Aneh… padahal aku ksatria es.”
Bayu Anggana berlutut di sisinya, menahan angin agar tak mengganggu medan energi.
“Itu bukan dingin, Pang,” katanya pelan.
“Itu kehampaan.”
Pangreksa tersenyum tipis—senyum rapuh.
“Jadi… beginilah rasanya…”
“Berjalan tanpa bayangan.”
Tiba-tiba tubuhnya melengkung.
Energi putih meledak keluar, lalu runtuh kembali seperti ombak pecah. Es di sekitarnya mencair seketika, berubah menjadi air hangat—tanda kekuatan esnya kehilangan poros.
Surya Wikrama menusukkan pedangnya ke tanah, cahaya emas membentuk segel penahan.
“Ia tak akan mati sekarang,” katanya.
“Tapi mulai hari ini… Pangreksa tidak akan pernah bisa bertarung seperti dulu.”
Bhra Anuraga mengepalkan tinju, api di matanya bergetar marah dan takut.
“Sialan… Candra… dan kegelapan terkutuk ini…”
Pangreksa menarik napas panjang—lalu tertawa kecil, batuk darah menyusul.
“Jangan marah…”
“Aku memilih ini.”
Ia memalingkan wajah sedikit, menatap Isidore yang berdiri tak jauh, wajahnya tegang.
“Isidore…”
“Kalau kau ragu nanti… ingat aku.”
Isidore berlutut di sisinya.
“Aku tidak ingin kemenangan seperti ini,” katanya jujur.
Pangreksa menggeleng lemah.
“Tidak ada kemenangan tanpa harga.”
“Yang penting… kau tidak menjadi seperti mereka.”
Kelopak matanya mulai berat.
Cahaya putihnya menyusut menjadi bara kecil di dadanya—masih hidup, tapi tak lagi utuh.
Surya Wikrama berdiri perlahan.
“Bawa Pangreksa ke lingkar pemulihan,” perintahnya.
“Dan bersiap.”
Ia menoleh ke medan perang, ke empat ksatria kegelapan yang tersisa.
“Karena setelah satu ksatria jatuh…”
“Dunia akan menagih darah yang lain.”
Di kejauhan, kabut kembali bergetar.
Dan Isidore sadar—
jika satu persahabatan saja bisa mematahkan seorang ksatria agung,
berapa banyak lagi yang akan hancur sebelum malam ini berakhir?
Chapter 86 amarah Bhra Anuraga meledak 

Amarah Bhra Anuraga meledak tanpa sisa.
Api tidak lagi sekadar membungkus tubuhnya—
api menjadi tubuhnya.
Udara di dalam gua bergetar, mengerang seperti logam dipanaskan. Batu-batu dinding memerah, lalu berpijar, seakan jantung gunung Sinabung sendiri terbangun dan murka. Retakan tanah menyemburkan hawa panas yang memaksa para kepala suku mundur tergopoh-gopoh.
“Ini kegilaan!”
teriak salah satu dari mereka, melarikan diri sambil menahan wajahnya yang melepuh oleh panas.
Bhra Anuraga melangkah maju.
Setiap jejak kakinya meninggalkan lelehan batu.
Matanya menyala—bukan merah, bukan oranye—melainkan putih membara, warna inti api yang tak mengenal belas kasihan.
“Kau membangkitkan yang telah beristirahat,”
suaranya bergema, berat dan retak,
“maka aku akan mengantarmu kembali… dengan api.”
Prawira Sangkala tersenyum.
Darah mengalir dari sela-sela zirah hitamnya, melayang di udara seperti benang hidup.
“Api?”
ia tertawa pelan.
“Cobalah lebih keras.”
Benang-benang darah itu melesat, mencoba menjerat Bhra Anuraga—
namun lenyap terbakar sebelum menyentuh.
Untuk sesaat.
Lalu Prawira menjatuhkan senyumnya.
Tubuhnya mencair.
Zirah, daging, dan tulang berubah menjadi cairan darah pekat, mengalir deras di lantai gua yang panas, lalu memanjat kaki Bhra Anuraga seperti makhluk hidup.
Api Bhra menyala lebih besar—
namun darah itu tidak mendidih.
Ia menyerap panas.
Merayap ke dada.
Ke leher.
Ke jantung.
Bhra Anuraga tersentak.
Langkahnya terhenti.
Api di sekelilingnya bergetar liar—tak lagi teratur.
“Apa… yang kau—”
Darah Prawira menyusup ke dalam pori, masuk ke pembuluh, mengikat organ-organ dari dalam. Jantung Bhra tersendat. Paru-parunya menolak udara. Api yang selama ini tunduk padanya kini kehilangan irama.
Tubuh sang penguasa api mulai membatu dari dalam—bukan oleh dingin, melainkan oleh kekosongan aliran hidup.
Prawira berbicara dari segala arah, dari dalam darah itu sendiri.
“Api membutuhkan napas.”
“Dan aku… meminjamnya.”
Bhra Anuraga berlutut.
Api meledak tak terkendali—lalu meredup tajam.
Saat itulah—
KRAK—!!
Langit gua terbelah oleh cahaya putih kebiruan.
Petir raksasa menghantam tepat ke tubuh Bhra Anuraga.
Guntur Wisesa berdiri di kejauhan, kedua tangannya terangkat, rambutnya terangkat oleh medan listrik yang meraung.
“Keluar.”
suaranya seperti hukum langit.
“Atau lenyap.”
Petir tidak membakar darah—
ia memisahkannya.
Cairan darah Prawira Sangkala terpental keluar dari tubuh Bhra, tersambar kilat, menjerit dalam suara yang bukan suara manusia, lalu berkumpul kembali di lantai gua—membentuk wujudnya dengan tergesa.
Prawira terhuyung, lututnya menyentuh tanah.
Untuk pertama kalinya—
ia tidak tersenyum.
Bhra Anuraga terengah, jatuh satu tangan ke tanah, api di tubuhnya menyala kecil, liar, tak stabil.
Guntur Wisesa mendekat, masih dikelilingi sisa kilat.
“Jangan berdiri,” katanya cepat.
“Satu tarikan lagi dan jantungmu akan berhenti.”
Bhra Anuraga tertawa pendek—batuk darah menyusul.
“Heh… ternyata…”
“darah juga bisa memadamkan api.”
Di kejauhan, Prawira Sangkala menegakkan tubuhnya kembali.
Matanya kini gelap—bukan oleh kegelapan,
melainkan oleh perhitungan ulang.
Pertempuran belum usai.
Namun satu hal telah berubah:
malam ini, api telah belajar takut pada darah.
Chapter 87 Gema air dan angin

Di lorong lain yang dipenuhi gema air dan angin, Sagara Putra dan Bayu Anggana terpisah dari saudara-saudara mereka. Cahaya biru berkilau di dinding gua, namun keindahan itu ternoda oleh kehadiran Raksapati Mahodra, sang Ksatria Tulang.
Tanpa sentuhan, tanpa amarah yang tampak, ia menggerakkan kehendaknya.
Terdengar bunyi retak yang mengerikan.
Sagara Putra terhuyung, lututnya menghantam tanah basah. Nafasnya terputus, dan jerit tertahan keluar dari dadanya.
“Aaargh…!”
Tulang rusuknya patah—diremuk dari dalam, seolah tubuhnya berkhianat pada dirinya sendiri.
Namun sebelum Bayu Anggana sempat menyerang, suara lain terdengar—lemah, basah, dan penuh penyesalan.
Kabut basah membentuk sosok Tirta Samirana.
Wajahnya pucat, tubuhnya setengah lenyap, seperti embun yang dipaksa mengenakan wujud manusia.
“Sagara Putra…”
suaranya bergetar,
“ampuni aku… ini bukan kehendakku.”
Kabut di sekelilingnya berdenyut gelap, seakan ada tangan tak terlihat yang mengikat jiwanya.
“Tubuh ini… dikendalikan.”
“Kau tahu kelemahanku.”
“Cepat… bunuh aku, sebelum aku melukai kalian lebih jauh.”
Mata Sagara Putra bergetar. Luka di tubuhnya belum pulih, namun hatinya lebih dahulu robek.
“Akulah yang seharusnya meminta maaf,”
katanya lirih,
“karena tidak berada di sisimu… saat kematianmu dahulu.”
Ia berdiri tertatih.
Lalu tubuhnya larut.
Daging menjadi air. Darah menjadi arus. Dalam sekejap, Sagara Putra berubah menjadi gelombang hidup yang meledak ke segala arah—air murni, bercahaya biru keperakan, mengalir deras menghampiri Tirta Samirana.
Air itu memurnikan.
Kotoran, luka, dan sisa-sisa kehancuran tersapu bersih. Untuk sesaat, wajah Tirta Samirana tampak tenang—seperti dahulu kala.
Namun kegelapan di dalam dirinya tidak runtuh.
Ia bertahan, menghitam, berakar jauh lebih dalam daripada tubuh.
Bayu Anggana menggeram pelan.
“Maka biarlah angin yang mengakhiri penderitaan ini.”
Ia mengangkat tangannya.
Angin lahir bukan sebagai hembusan—melainkan tangan langit.
Tubuh Tirta Samirana terangkat, terputar, lalu dibanting ke langit-langit gua dengan kekuatan badai. Batu pecah, kabut tercerai, dan suara kehancuran menggema panjang sebelum akhirnya sunyi.
Sagara Putra kembali ke wujud manusia, terengah.
Dengan sisa kekuatannya, ia melangkah maju dan menancapkan segel air bercahaya ke sisa inti roh Tirta Samirana.
“Beristirahatlah,”
bisiknya,
“kawan lama.”
Cahaya biru meredup perlahan.
Dan di tempat itu, di antara batu basah dan angin yang masih berdesir, satu jiwa akhirnya menemukan ketenangan—meski dunia di luar masih terbakar oleh perang.
Chapter 88 isidore bertarung

Isidore, ditemani Rakajati, akhirnya tiba di ruang terdalam gua—sebuah rongga batu raksasa yang langit-langitnya dipenuhi akar purba, berdenyut pelan seolah bernapas bersama bumi.
Di sana berdiri Ki Surya Dahana.
Jubahnya bergelombang seperti bayangan api, tongkatnya menancap di tanah, dan matanya memantulkan cahaya hitam keemasan.
Isidore melangkah maju.
Satu langkah.
Dua langkah.
Dengan tarikan napas tenang, ia mengayunkan pedangnya.
Slaaash—
Namun yang terpotong hanyalah bayangan.
Tubuh Ki Surya Dahana lenyap, tercerai seperti asap diterpa angin malam.
“Ilusi…,”
gumam Rakajati, merasakan getaran aneh di akar-akar di bawah kakinya.
Dari balik kegelapan, terdengar tawa rendah—bukan satu, melainkan tiga.
Kabut tersibak.
Muncullah para kepala suku:
Orkaghor, si Bercak Darah, dengan mata menyala liar.
Mhezzrak, sang Pisau Tak Terlihat, tubuhnya hampir menyatu dengan bayangan.
Vorthax, si Gila Darah, memanggul pedang raksasa yang pernah menumbangkan naga.
Tanah bergetar saat mereka melangkah maju.
Rakajati menghentakkan tongkatnya.
Dari dinding dan lantai gua, cabang-cabang pohon hidup melesat, meliuk seperti ular raksasa, melilit kaki dan tangan para kepala suku dengan kecepatan kilat.
“Terikatlah oleh kehendak hutan,”
ujar Rakajati, suaranya dalam dan tua seperti bumi itu sendiri.
Namun Orkaghor tersenyum menyeringai.
“Saatnya mencoba… hasil latihan kita.”
Tubuh mereka berubah.
Otot membesar, tulang menonjol, dan aura gelap menyelimuti senjata masing-masing. Artefak terkutuk yang mereka genggam berdenyut, merespons darah dan amarah.
Craaak!
Cabang-cabang pohon dipotong, diracik, dihancurkan—seolah kayu tak lagi memiliki kehendak.
Isidore maju tanpa ragu.
Pedang panjangnya—yang dahulu keris—bercahaya perak kebiruan. Setiap langkahnya ringan, namun penuh tekanan, seperti ombak yang tahu kapan harus menghantam.
Benturan pertama terjadi.
Klang!
Klang!
Klang!
Pedang Isidore beradu dengan senjata Orkaghor dan Vorthax, percikan cahaya berhamburan menghantam dinding gua.
Mhezzrak mencoba menyerang dari belakang—namun Isidore berputar, langkahnya luwes dan tepat, seakan telah menghafal medan sebelum menginjaknya.
Dari kejauhan, Ksatria Cheon Myeong mengamati.
Matanya menyipit—bukan karena cemas, melainkan takjub.
“Ia telah melampaui apa yang kuajarkan,”
bisiknya pada angin.
“Gerakan Dewa Pedang… kini telah sempurna.”
Isidore bergerak bukan lagi sebagai murid.
Ia adalah poros medan perang.
Satu tebasan membuka ruang.
Satu langkah menutup celah.
Satu tarikan napas menyatukan niat dan baja.
Para kepala suku kini tak lagi tertawa.
Mereka menyadari—
yang berdiri di hadapan mereka
bukan sekadar putra raja,
melainkan pedang kehendak Mythopia itu sendiri.
Dan jauh di balik bayangan yang belum lenyap sepenuhnya,
Ki Surya Dahana menyaksikan.
Menilai.
Menunggu saat yang tepat
untuk kembali turun ke panggung kehancuran.

03/12/25

Season 5 Jatmika & Portal Waktu

---

Peningkatan ekonomi tidak datang dengan gemuruh, melainkan dengan tanda-tanda kecil yang hanya bisa dikenali oleh mereka yang memperhatikannya.
Pemesanan lampu untuk gedung-gedung bertingkat mulai meningkat—sebuah indikator yang sederhana, tapi tak pernah keliru. Di layar monitor ruang administrasi, grafik permintaan melengkung naik perlahan, seolah menggambar denyut kehidupan yang kembali stabil.

Email dan pesan WhatsApp berdatangan tanpa henti. Permintaan untuk layanan teleportasi melonjak—bukan hanya dari kalangan ilmuwan atau pejabat, tetapi juga dari perusahaan swasta dan lembaga riset daerah. Setiap pesan yang masuk terasa seperti bukti kecil bahwa teknologi yang dulu dianggap mustahil kini mulai diterima sebagai bagian dari keseharian manusia.

Bisnis berjalan kembali, bukan karena keajaiban, tetapi karena ketekunan sistem dan orang-orang di baliknya.
Jatmika memimpin rapat siang itu di ruang konferensi utama, dinding kaca memantulkan cahaya biru dari artefak lampu energi Nusantara yang terpasang di sudut ruangan. Para pendamping pengunjung duduk berjejer dengan catatan di tangan. Mereka bukan hanya operator, tetapi mediator antara dunia lama dan cara baru berpindah tempat.

“Untuk minggu ini,” kata Jatmika dengan suara yang tenang namun tegas, “kita akan menerima lebih banyak tamu dari dalam negeri. Kalian harus siap dengan pertanyaan mereka—tentang keamanan, etika, bahkan tentang hal-hal yang belum bisa dijawab dengan angka. Dan minggu depan, rombongan dari Cina, Amerika, Rusia, dan Jepang akan datang. Mereka tidak hanya melihat teknologi kita, tapi cara kita memahami maknanya.”

Beberapa kepala mengangguk pelan. Tak ada tepuk tangan, hanya kesadaran akan tanggung jawab.
“Kami akan menaikkan gaji para pendamping,” lanjutnya, “asalkan tidak ada kesalahan dalam pelayanan dan komunikasi. Kalian bukan hanya wajah perusahaan ini—kalian jembatan antara manusia dan ruang.”

Di akhir rapat, Jatmika menatap layar besar yang menampilkan rancangan gedung kantor pusat baru di Jalan Sudirman.
“Bulan depan bangunan ini selesai,” katanya. “Kita akan pindah ke sana. Bukan sekadar perubahan alamat, tapi langkah menuju cara baru memahami jarak.”

Di luar, langit Jakarta sore itu terlihat tenang. Cahaya matahari memantul di jendela gedung-gedung tinggi—seolah kota ini perlahan belajar berdamai dengan masa depan yang dulu hanya hidup di dalam teori.

---

Sore itu hujan turun tanpa jeda sejak pagi. Butiran air membentuk pola di jendela laboratorium, seperti data yang belum selesai diproses. Genangan mulai terbentuk di jalan-jalan sekitar kompleks industri, sementara di Jakarta, banjir kembali menjadi berita utama di setiap saluran televisi. Namun di pelataran PT. Sinar Ultraviolet, deretan bus berhenti satu per satu dengan pengawalan polisi.

Dari dalam bus, turun para pejabat, anggota DPR, menteri, dan akademisi. Mereka datang bukan sekadar untuk melihat hasil riset, tetapi untuk menyaksikan kemungkinan masa depan yang kini telah berwujud nyata: teleportasi instan energi Nusantara.

Hujan tidak menghentikan diskusi, hanya membuatnya lebih lambat dan dalam.
“Jika teknologi ini sudah ditemukan tahun lalu,” salah satu pejabat bertanya, “mengapa sempat ditutup?”

Jatmika menatap layar hologram di hadapannya sebelum menjawab.
“Masalahnya bukan pada mesin,” katanya perlahan. “Ketidakpastian selalu ada—bukan hanya pada keamanan, tapi juga pada reaksi sosial. Dunia belum siap untuk berpindah tanpa jarak. Karena itu, aktivitas kami sempat dihentikan sementara.”

Seorang menteri muda mengangguk sambil mencatat sesuatu di tabletnya. “Lalu mengapa tarif teleportasi begitu tinggi? Satu juta rupiah untuk satu kali perjalanan, bukankah itu terlalu mahal untuk rakyat?”

Jatmika tersenyum tipis. “Harga itu mencakup konsumsi energi dan stabilitas sistem. Setiap perpindahan memerlukan aliran daya setara menyalakan seluruh gedung bertingkat selama beberapa menit.”
Ia tidak menambahkan satu hal penting: bahwa timnya telah menemukan cara baru untuk mengefisienkan daya—teknologi yang masih ia rahasiakan bahkan dari pemerintah.

Para pejabat dan anggota DPR memasuki gedung utama, jas mereka basah di ujung lengan, sepatu mengeluarkan bunyi lembap di lantai marmer.
Rombongan pertama, yang terdiri atas para menteri dan wakil rakyat, dipimpin langsung oleh Jatmika. Rombongan kedua, para akademisi, didampingi oleh John, yang kini lebih banyak diam, matanya memantulkan cahaya lampu laboratorium.

Di ruang inti teleportasi, cahaya dari artefak Ny Tien—program kecerdasan buatan yang menjadi pusat kendali sistem—berpendar lembut. Warna emas, biru, dan hijau silih berganti seperti denyut nadi buatan. Suara lembut Ny Tien terdengar dari speaker tersembunyi:

> “Koordinat telah diset. Perpindahan dimulai dalam tiga, dua, satu—”



Hujan masih turun di luar. Tapi di dalam ruangan itu, di tengah dentum halus listrik yang mengalir di udara, manusia sedang menantang salah satu batas tertuanya: jarak.
Anggota DPR mulai merancang sebuah undang-undang yang akan menjadi fondasi bagi masa depan teleportasi. Bagi mereka, teknologi ini bukan sekadar kemajuan ilmiah, tetapi sebuah infrastruktur baru yang mengubah cara manusia berpindah, bekerja, dan melintasi batas negara.

Dalam pembahasan awal, muncul satu kekhawatiran yang segera dianggap mendesak: arus perpindahan manusia yang tak lagi terdeteksi oleh mekanisme konvensional. Jika teleportasi dapat membawa seseorang melintasi jarak ratusan kilometer dalam sekejap, maka konsep perbatasan perlu didefinisikan ulang.

Karena itu, para legislator berpendapat bahwa kantor teleportasi harus memiliki fungsi serupa bandara. Petugas imigrasi perlu ditempatkan di setiap fasilitas—bukan hanya sebagai pemeriksa dokumen, tetapi sebagai penjaga keteraturan di tengah teknologi yang dapat memindahkan tubuh lebih cepat daripada birokrasi mampu memprosesnya.

Di balik diskusi itu, terselip kesadaran lain: bahwa hukum selalu tertinggal dari teknologi, dan usaha mereka sekarang hanyalah mencoba mengejar sesuatu yang sudah mulai mengubah dunia jauh sebelum paragraf pertama undang-undang itu ditulis.


---

---

Bulan Desember membawa hujan yang hampir tidak berhenti. Genangan air di jalan membuat kendaraan bergerak seperti mempertimbangkan setiap meter yang mereka tempuh. Di tengah perubahan musim itu, Jatmika baru saja membeli mobil listrik generasi terbaru—keputusan yang ia buat dengan diam-diam, seperti halnya perintahnya kepada John untuk menjual beberapa keping emas dari gua teleportasi. Bagi Jatmika, emas itu bukan sekadar nilai materi, tetapi jejak dari sebuah teknologi yang masih belum sepenuhnya dipahami asal-usulnya.

Sementara itu, gedung baru PT Sinar Ultraviolet akhirnya selesai dibangun. Seratus lantai menjulang di atas kota, seolah menjadi penanda bahwa dunia bergerak menuju sesuatu yang berbeda dari masa lalu. Namun, kabar yang lebih mengejutkan datang dari cabang perusahaan di Tiongkok: gedung mereka bahkan lebih besar, lebih kompleks, dan lebih berani dalam memanfaatkan teknologi teleportasi sebagai pusat operasional.

Dalam suasana itu, Jatmika sedang menata ulang struktur organisasinya. Ia menolak mengikuti pola hierarki perusahaan tradisional. Menurutnya, struktur yang adil bukan dibangun dari senioritas atau gelar, tetapi dari partisipasi nyata—dari jumlah tindakan yang benar-benar memberi dampak. Ia merancang sistem di mana posisi tertinggi diberikan kepada mereka yang paling banyak berkontribusi secara terukur.

Untuk menandai hierarki itu, ia memilih simbol-simbol yang tidak biasa. Di puncak ia menempatkan naga putih, simbol yang mewakili dirinya sendiri—bukan sebagai penguasa, tetapi sebagai penjaga keseimbangan sistem. Di bawahnya ada naga merah untuk Pak Toni, dan naga hijau untuk kepala cabang Tiongkok, Prof. Wen Shuyuan. Tongkat safir merah diberikan kepada John, sebagai pengelola teknis dan konseptual teleportasi.

Setiap anggota dari Tim Sepuluh memakai logo kapak emas, tanda bagi mereka yang menjalankan pekerjaan lapangan dan riset intensif.

Sistem itu bekerja seperti algoritma moral: setiap kontribusi tercatat, setiap keputusan memiliki konsekuensi yang dapat diukur. Level naga dan safir memiliki otoritas tertinggi, tetapi otoritas itu bukan hak istimewa, melainkan hasil dari akumulasi tindakan yang tidak bisa dipalsukan.

Dalam pikiran Jatmika, inilah satu-satunya cara untuk memastikan bahwa teknologi sebesar teleportasi tidak dikuasai oleh status, tetapi oleh kompetensi dan tanggung jawab—dua hal yang, baginya, jauh lebih dapat dipercaya daripada gelar atau jabatan.

---

Hari itu, Jatmika membuka rapat dengan para investor yang datang dari berbagai negara. Mereka bukan hanya penasaran, tetapi juga terpesona oleh prospek ekonomi yang ditawarkan teleportasi. Di antara mereka, seorang pengusaha Amerika menyampaikan ketertarikannya untuk membeli seluruh sistem—sebuah tawaran yang dalam konteks bisnis konvensional mungkin sulit ditolak.

Namun Jatmika menjawab dengan hati-hati. Ia menjelaskan bahwa teleportasi bukan sekadar teknologi yang dapat dipindahkan seperti perangkat elektronik. Sistem itu, menurut pengamatannya, terikat pada kondisi tertentu di Indonesia—kondisi fisik ataupun nonfisik yang belum sepenuhnya dipahami. Ia tidak menyebutkannya sebagai rahasia dagang, tetapi lebih sebagai batasan fundamental yang masih menunggu penjelasan ilmiah.

Para investor menatapnya dengan ragu, tetapi juga dengan rasa ingin tahu yang tumbuh. Jatmika melanjutkan bahwa perusahaan sedang mengembangkan tahap berikutnya dari teleportasi: perpindahan lintas negara melalui titik-titik yang tidak lagi bergantung pada gua kuno, dan bahkan uji coba awal untuk lintas planet telah dimulai.

Ia tidak menyampaikan janji, hanya kemungkinan—dan kemungkinan itu sendiri sudah cukup untuk mengubah cara dunia menghitung masa depannya.

Bagi sebagian investor, itu adalah peluang. Bagi Jatmika, itu adalah pengingat bahwa setiap teknologi besar selalu membawa konsekuensi yang lebih luas daripada yang mampu diperkirakan oleh pemiliknya. Dan untuk saat ini, ia memilih untuk menjaga agar pusat gravitasi teknologi itu tetap berada di tanah tempat ia menemukannya.


---
Sore hari di lantai 60 gedung baru PT. Sinar Ultraviolet.
Hujan turun tipis, seperti bayangan yang jatuh perlahan di atas kaca. Dari kejauhan, lampu kota berpendar seperti jaringan saraf yang hidup.

Jatmika berdiri menatap jendela, sementara John duduk di kursi, memegang secangkir kopi yang mulai mendingin.

“Perusahaan Amerika itu datang lagi,” kata John akhirnya. “Penawaran mereka naik dua kali lipat. Kalau dihitung secara kasar… kita bisa membiayai penelitian puluhan tahun ke depan.”

Jatmika tersenyum samar, tidak memalingkan pandangan dari hujan. “Ketika mereka bilang ‘membeli sistem teleportasi’, apa yang sebenarnya mereka pikirkan? Mesin? Rumusnya? Atau… kendali atasnya?”

John mengangkat bahu. “Dalam bisnis, semua itu dianggap sama.”

“Ya,” Jatmika menanggapi pelan. “Itulah masalahnya. Mereka mengira teleportasi ini adalah sesuatu yang sepenuhnya dapat dimiliki. Mereka tidak mengerti bahwa apa yang kita temukan tidak pernah sepenuhnya milik kita. Ia hanya kebetulan berada di tangan kita dulu.”

John menatapnya lebih serius. “Jadi jawabannya tetap tidak?”

“Tidak,” kata Jatmika tegas tetapi lembut. “Teknologi ini tidak dijual. Bukan karena nasionalisme… tapi karena setiap teknologi radikal membawa tanggung jawab. Kalau kita menjualnya, kita sama saja melepaskan tanggung jawab itu kepada orang yang mungkin tak siap menanggung konsekuensinya.”

John menghela napas. “Kadang aku bertanya-tanya… apakah manusia pernah benar-benar siap?”

Jatmika tertawa kecil. “Pertanyaan yang bagus. Mungkin tidak. Tapi setidaknya kita bisa memilih siapa yang pertama kali memikulnya.”

Ia kembali ke meja, membuka sebuah berkas. “Kita sudah menerima satu juta karyawan, dan kita akan membuka lowongan lagi. Koki, pramusaji, kebersihan, satpam. Bahkan yang berusia 90 tahun pun kita terima jika masih mampu bekerja.”

John mengernyit, separuh tersenyum. “Sistem kita mulai terdengar seperti eksperimen sosial.”

“Mungkin memang begitu,” jawab Jatmika. “Jika teleportasi mengubah cara manusia bergerak, bukankah wajar kalau kita mulai memikirkan kembali cara manusia bekerja?”

Ia menambahkan, “Aku juga ingin sebagian pekerja dilatih secara militer. Bukan untuk kekerasan, tapi untuk disiplin. Bukan disiplin yang menindas… tapi yang menata.”

John memutar cangkirnya. “Kalau orang-orang tahu kau berpikir sejauh itu, mereka akan bilang kau ingin membangun peradaban baru.”

“Bukan,” kata Jatmika pelan. “Aku hanya ingin memastikan teknologi ini tidak membuat kita kehilangan jati diri. Kalau sampai kita berubah, setidaknya kita berubah dengan sadar, bukan karena didorong oleh ketamakan atau ketakutan.”

John termenung lama sebelum berkata, “Dan perusahaan Amerika itu… mereka belum mengerti itu?”

“Mereka melihat teleportasi sebagai komoditas,” jawab Jatmika. “Aku melihatnya sebagai warisan. Sesuatu yang harus dijaga, bukan diperdagangkan.”

Hujan masih turun, lebih pelan dari sebelumnya. Seolah dunia pun sedang mempertimbangkan kata-kata itu.

“Kadang,” kata John, “aku merasa kita tak sedang membangun perusahaan… tapi sedang menjaga sesuatu yang lebih besar dari kita.”

Jatmika menatapnya. “Mungkin memang begitu, John. Dan itu sebabnya kita tidak bisa menjualnya. Apa yang lahir di tanah ini, akan diwariskan kembali kepada anak-anak bangsa ini. Itu bukan slogan. Itu… keseimbangan.”

Dan untuk sejenak, suara hujan yang jatuh di kaca adalah satu-satunya suara yang mengisi ruangan—seperti jeda panjang dalam eksperimen besar yang belum selesai.

---

Iklan itu muncul di televisi nasional tanpa musik latar, hanya suara narator yang datar namun tegas:

> “ANDA TELAH MENGANGGUR SEKIAN LAMA.
ANDA SUDAH BOSAN MENGIRIM CV TANPA JAWABAN.
PT. SINAR ULTRAVIOLET MEMBUKA KESEMPATAN BARU.
USIA BUKAN BATASAN.
YANG KAMI BUTUHKAN ADALAH SEMANGAT BERPARTISIPASI.
GAJI HANYA ANGKA.
PARTISIPASI ANDA ADALAH NILAI YANG SEBENARNYA.
DATANGLAH MENGENAKAN BAJU OLAHRAGA.”



Tak ada janji berlebihan. Tak ada visual dramatis. Hanya pesan yang terasa seperti undangan untuk ikut serta dalam eksperimen sosial berskala besar.


---

Siang itu, langit tampak seperti lembar kaca abu-abu yang belum dipoles.

Gerimis menggantung, namun ribuan pelamar berdiri berbaris di depan gedung PT Sinar Ultraviolet—sebuah struktur 100 lantai yang memantulkan siluet kota seperti memori yang disusun ulang.

Mereka datang dengan baju olahraga, membawa CV dalam map plastik yang sudah berkali-kali dipakai sebelumnya. Di antara kerumunan, seorang lelaki renta berusia 90 tahun berdiri tegak. Nafasnya pendek, tapi matanya tak kehilangan fokusnya.

Beberapa pelamar muda melempar cibiran kecil.

“Serius, Pak?” bisik seseorang.
“Tangga seratus lantai…” gumam yang lain.

Lelaki tua itu hanya tersenyum tipis, seolah komentar itu hanyalah angin kecil yang lewat di antara suara kota.


---

Di depan barisan, seorang instruktur berseragam militer berdiri.

Ia memegang pengeras suara yang mengeluarkan dentingan statis sebelum suaranya terdengar.

“Letakkan semua CV di meja registrasi. Tidak akan ada wawancara. Tidak ada tes tertulis. Hanya satu evaluasi: kemampuan mengikuti instruksi.”

Pelamar mulai bergerak, tumpukan CV tumbuh cepat di atas meja panjang yang tampak seperti alat ukur diam terhadap nasib ribuan orang.

“Berbaris rapi!” teriak instruktur.
“Tes akan dimulai tepat pukul 07.00.”

Jam digital di depan gedung menunjukkan 06.56.
Hujan rintik-rintik seakan menunggu aba-aba.


---

Tepat pukul 07.00, peluit dibunyikan.

Instruktur berbicara lagi:

“Tugas kalian sederhana.
Naiki tangga gedung ini sampai lantai 100.
Lalu turun kembali.
Siapa pun yang tidak mampu menyelesaikan, dinyatakan gugur.”

Tidak ada yang mempertanyakan mengapa tesnya demikian.
Mungkin karena di perusahaan ini, batas kemampuan bukan hanya dinilai dari tenaga fisik, tapi dari cara seseorang merespons sesuatu yang tampak tidak masuk akal—seperti teleportasi itu sendiri.

Sebagian peserta saling berbisik, mencoba merumuskan strategi.
Yang lain diam, menyiapkan napas.
Lelaki tua itu berdiri paling belakang, kedua tangannya meremas topi kecil di genggamannya.

Ketika peluit dibunyikan, barisan meletup seperti gelombang energi. Para pelamar mulai berlari menuju pintu tangga darurat, langkah mereka bergema seperti denyut nadi raksasa yang baru terbangun.


---
---

Tes Dimulai

Pada menit-menit pertama, suara langkah kaki para peserta memenuhi lorong tangga darurat seperti gema dari ruang mesin raksasa yang baru dihidupkan. Tidak ada kipas angin, tidak ada AC; dinding beton menyerap panas tubuh ratusan orang dan memantulkannya kembali seperti gelombang tak terlihat.

Di lantai 5, peluh mulai bercucuran dari wajah sebagian peserta. Seseorang mengipas-ngipas dirinya dengan CV kosong yang baru saja dikumpulkan. Aroma keringat bercampur debu membuat udara terasa lebih berat dari biasanya.

Tak ada yang diberikan selain instruksi tunggal: naik sampai lantai 100, lalu turun kembali.

Tidak ada air minum.
Tidak ada kursi untuk berhenti.
Tidak ada musik penyemangat seperti dalam acara maraton televisi.

Kesuksesan tes ini, sebagaimana teknologi teleportasi, tampaknya bergantung pada kemampuan untuk mempertahankan ritme yang nyaris tidak masuk akal—ritme yang menguji hubungan seseorang dengan tubuhnya sendiri.


---

Lelaki 90 Tahun

Di antara peserta, langkah paling lambat tapi paling konsisten adalah milik lelaki tua berusia 90 tahun itu. Tangannya menelusuri pagar besi sebagai penyangga, dan setiap lima langkah ia berhenti sejenak, bukan untuk menyerah, tetapi untuk menstabilkan napasnya.

Beberapa peserta yang melewatinya menatap iba, sebagian lainnya memandangnya seperti anomali yang menantang logika rekrutmen modern.

Dan entah bagaimana, ia tetap melangkah.
Lantai demi lantai.
Seolah ujian ini bukan tentang kemampuan fisik, tapi tentang hubungan seseorang dengan waktu.


---

Lantai 37: Titik Putus

Di lantai 37, puluhan peserta menyerah dan duduk di anak tangga, memegang lutut sambil menunduk. Ada yang memaki keputusan datang ke sini. Ada yang bertanya-tanya apakah perusahaan sengaja menciptakan tes yang “mustahil” untuk melihat siapa yang tetap mencoba.

Seorang pemuda yang berhenti hampir terjatuh saat mencoba berdiri kembali. Ia melihat ke atas—dan melihat lelaki 90 tahun itu menyusulnya perlahan, langkah demi langkah.

Tatapan mereka bertemu.
Tanpa kata-kata, si pemuda kembali berdiri.
Entah apa yang ia lihat pada lelaki itu—keteguhan, pengingat tentang martabat, atau kemungkinan kecil bahwa hidup bisa berubah di lantai berikutnya.


---

Lantai 100

Begitu mencapai lantai 100, tidak ada panitia yang menunggu.
Tidak ada bendera, tidak ada tepuk tangan.

Hanya sebuah kertas A4 ditempel di dinding:

> “TURUN KEMBALI.”



Bagi sebagian orang, ini lebih menghancurkan daripada naik seratus lantai.
Beberapa berdiri lama memandangi kertas itu, seolah mencoba membaca makna tersembunyi di balik kalimat sederhana tersebut.

Lelaki 90 tahun itu tiba belakangan, tubuhnya bergetar, namun matanya memandang tulisan itu dengan ketenangan yang hanya dimiliki seseorang yang telah melewati kesulitan yang lebih besar dalam hidupnya.

Ia mengangguk kecil, lalu mulai menuruni tangga.


---

Penurunan: Ujian Sebenarnya

Jika naik menguji kekuatan, maka turun menguji kestabilan. Lutut mulai lemah, telapak kaki terasa terbakar, dan pandangan sebagian peserta mulai berkunang-kunang.

Beberapa peserta mengambil risiko dengan berlari menuruni tangga agar “mencapai garis akhir lebih cepat,” hanya untuk hampir terpeleset di tikungan sempit.

Sementara itu, langkah lelaki tua itu tetap sama: perlahan, terukur, dan penuh kehati-hatian.

Di lantai 12, seorang perempuan muda hampir pingsan. Ia bersandar ke dinding, napasnya terputus-putus. Lelaki tua itu berhenti di sampingnya, menawarkan saputangannya yang basah keringat.

“Masih jauh, Nak,” katanya pelan, “tapi tidak perlu cepat.”

Kata-kata sederhana itu membuat perempuan itu kembali berdiri.


---

Kembalinya Ke Lobi

Ketika peserta pertama menjejakkan kaki kembali di lobi, instruktur militer hanya mengangguk.

Tidak ada tepuk tangan.
Tidak ada pengumuman.
Tidak ada drama.

Nama peserta hanya dicatat.
Begitu saja.
Tes ini tidak mengagungkan siapa pun, tidak merendahkan siapa pun.
Ia hanya memperlihatkan siapa yang bersedia bertahan.

Dan saat lelaki 90 tahun itu akhirnya tiba—berjalan dengan langkah kecil, namun tetap tegak—ruangan yang dingin dan formal itu menjadi sedikit berbeda.

Seolah ketahanan dapat hadir dalam banyak bentuk, bukan hanya milik mereka yang muda dan bertenaga.


---

---

Tes Kejujuran

Pada menit ke-120 sejak tes dimulai, sistem pemantau internal mengubah pola laporan. Kamera di setiap tikungan tangga—yang awalnya hanya merekam jalannya proses—mulai menandai anomali: peserta yang tiba-tiba muncul kembali di lantai bawah meskipun belum pernah terekam melewati lantai 70, 80, atau 90.

Algoritma pengawasan yang disusun Ny Tien tidak dibuat untuk menghukum, hanya untuk mencatat. Tapi pada pagi itu, catatan itu menjadi bukti bahwa beberapa peserta memilih jalan pintas. Mereka turun sebelum mencapai lantai 100.

Para instruktur diam. Mereka tidak mengejar, tidak meneriaki, tidak menegur. Tes ini memang mengandung satu variabel tersembunyi: kejujuran dalam tekanan.

Ketika peserta curang itu tiba di lobi dengan napas terengah-engah, beberapa bahkan berpura-pura kelelahan ekstrem, satu instruktur hanya berkata:

> “Silakan duduk di area sebelah kiri.”



Mereka tidak tahu bahwa area itu disiapkan bagi peserta yang akan didiskualifikasi.

Di sisi lain, peserta yang pingsan digotong ke ruang kesehatan.
Tidak ada kata-kata yang menyalahkan.
Namun mereka tetap dianggap gagal tes pagi itu.


---

Menjelang Tengah Hari

Sementara matahari bergerak ke titik tertinggi dan hujan mulai berhenti, sisa peserta—jumlahnya tidak lebih dari seperlima total awal—masih berjuang menyelesaikan penurunan. Ketika jam hampir menyentuh pukul 12, peserta terakhir akhirnya menjejak lantai dasar.

Ruang lobi terasa seperti tempat yang baru saja dilewati badai: wajah pucat, napas tersengal, CV berserakan dalam tumpukan besar di meja resepsionis.

Instruktur memberikan kode ke Ny Tien melalui terminal kecil. Dalam beberapa detik, sistem menandai siapa saja yang menamatkan, siapa yang gagal, dan siapa yang curang. Semuanya terekam tanpa emosi—seperti hukum fisika sederhana.


---

Pemeriksaan CV

Jatmika dan tim HRD memasuki ruangan evaluasi. Mereka duduk mengelilingi meja panjang, layar besar di dinding menampilkan nama-nama peserta yang lulus.

CV para peserta yang tersisa dikumpulkan kembali.

Seorang staf HRD tiba-tiba mengernyit.

“Pak… ini ada beberapa CV yang… aneh.”

Jatmika menoleh.
“Kenapa?”

Staf itu menunjukkan dua lembar CV yang masih bersih dari keringat atau lipatan.

“Orang-orang ini masih bekerja di perusahaan kita, Pak. Mereka staf operasional, tapi ikut mendaftar sebagai pelamar baru.”

Jatmika mengambil kedua CV itu, membaca sebentar. Informasi diri, riwayat pendidikan, nomor KTP—semuanya asli.

“Apa tujuan mereka ikut tes ini?” tanya staf HRD lain.

Pertanyaan itu menggantung di udara, seolah menuntut jawaban lebih dalam dari sekadar alasan administratif.

Jatmika menghela napas pelan, seperti seseorang yang sedang mempertimbangkan skenario-skenario di kepala.

“Barangkali,” katanya akhirnya, “mereka ingin kesempatan kedua. Atau mungkin mereka ingin membuktikan sesuatu… tentang diri mereka sendiri. Tes ini tidak hanya tentang mendapatkan pekerjaan. Bagi sebagian orang, mungkin ini cara untuk mengukur nilai mereka.”

John, yang berdiri di belakang, menambahkan lirih,
“Atau mereka takut tertinggal. Dunia berubah terlalu cepat dalam dua tahun terakhir. Teleportasi, kantor baru, ekspansi besar-besaran… tidak semua orang tahu apakah posisi mereka masih aman.”

Jatmika menatap layar daftar kelulusan. Ada keheningan kecil, seperti jeda antara satu keputusan penting dan keputusan berikutnya.

---
Hari itu, bagian HRD bekerja seperti pusat kendali lalu lintas yang mencoba menata arus manusia. Dian Sastro Wardoyo, sebagai kepala divisi, memimpin proses seleksi dengan ketelitian yang hampir menyerupai eksperimen ilmiah. Setiap CV dibaca bukan hanya sebagai daftar keterampilan, tetapi sebagai jejak keputusan hidup: usia, pengalaman kerja, jeda pengangguran, dan alasan berpindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain.
Proses ini tidak selesai dalam sehari. Dibutuhkan waktu hampir seminggu untuk memetakan kecocokan tiap peserta—bukan hanya dengan posisi yang tersedia, tetapi dengan masa depan perusahaan itu sendiri.
PT Sinar Ultraviolet bukan lagi perusahaan biasa. Ia telah berubah menjadi ekosistem: sebagian orang dibutuhkan untuk menjaga kestabilan, sebagian lain untuk menjelajah ketidakpastian.
Di tengah proses seleksi itu, Jatmika mengusulkan satu variabel baru.
Ia tidak menyampaikannya sebagai kebijakan, melainkan sebagai pilihan.
“Kami akan membagi dua jalur,” katanya dalam rapat internal.
“Jalur pertama: karyawan. Mereka bekerja seperti perusahaan pada umumnya—operasional, produksi, layanan, manajemen.
Jalur kedua: petarung.”
Beberapa staf HRD terdiam. Kata itu terdengar keras, hampir primitif.
Jatmika melanjutkan, suaranya tetap datar.
“Petarung bukan untuk berkelahi. Mereka menjalankan misi perusahaan—eksplorasi gua, pengamanan artefak, pengujian lokasi teleport, dan tugas-tugas yang tidak bisa dimasukkan ke dalam deskripsi kerja biasa. Risiko mereka lebih besar. Karena itu, kompensasinya juga berbeda.”
Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan:
“Dan tidak semua orang cocok untuk jalur ini. Bahkan yang kuat secara fisik sekalipun.”
Dengan demikian, seleksi tidak lagi hanya tentang lulus atau gagal, melainkan tentang memilih jenis masa depan.
Hari pengumuman tiba.
Para peserta yang tersisa berkumpul di aula utama. Tidak ada musik pembangkit semangat. Tidak ada tepuk tangan pembuka. Hanya layar besar yang menampilkan logo PT Sinar Ultraviolet dan daftar nama yang belum muncul.
Jatmika berdiri di depan mereka.
“Hari ini,” katanya, “kami tidak hanya mengumumkan siapa yang diterima bekerja. Kami juga mengumumkan siapa yang dipercaya.”
Ia menjelaskan kembali dua jalur itu, dengan bahasa yang sederhana dan tanpa glorifikasi.
“Karyawan akan membangun perusahaan ini agar tetap berdiri.
Petarung akan membawa perusahaan ini ke tempat-tempat yang belum kita pahami sepenuhnya.”
Nama-nama mulai muncul di layar, satu per satu, terbagi dalam dua kolom.
Beberapa peserta tersenyum lega ketika melihat namanya tercantum sebagai karyawan.
Sebagian lain terdiam lama ketika melihat namanya berada di kolom petarung—bukan karena bangga, tetapi karena menyadari konsekuensi yang menyertainya.
Dan ada pula yang tidak menemukan namanya sama sekali.
Jatmika menutup pengumuman dengan satu kalimat yang tidak tercantum di poster rekrutmen mana pun:
“Perusahaan ini tidak mencari orang yang paling kuat atau paling pintar. Kami mencari orang yang memahami pilihan yang mereka ambil—dan bersedia menanggung akibatnya.”
Tidak ada tepuk tangan.
Namun keheningan itu justru menjadi tanda bahwa kata-katanya dipahami.

Nama pria itu muncul paling bawah dalam kolom Petarung.
Usianya tercatat: 90 tahun.
Beberapa peserta lain menoleh, seolah sistem telah melakukan kesalahan. Namun Ny. Tien tidak pernah salah dalam membaca data biologis. Detak jantungnya stabil. Kepadatan tulangnya di atas rata-rata pria setengah usianya. Ototnya tidak besar, tetapi serabutnya padat—sejenis kekuatan yang tidak berasal dari latihan kebugaran modern, melainkan dari kebiasaan bertahan hidup terlalu lama.
Jatmika memanggilnya ke depan.
“Bapak tahu,” katanya hati-hati, “jalur ini bukan pekerjaan biasa.”
Pria itu mengangguk. Gerakannya pelan, tetapi tidak ragu.
“Saya tahu,” jawabnya. “Karena itu saya memilihnya.”
Latar belakangnya sederhana. Mantan tentara, pensiun sebelum kata pascatrauma dikenal sebagai diagnosis. Sebagian besar hidupnya dihabiskan dalam rutinitas yang jelas: bangun, bergerak, berjaga, tidur. Setelah pensiun, rutinitas itu menghilang satu per satu—hingga yang tersisa hanya rumah yang terlalu sunyi.
Istrinya telah meninggal bertahun-tahun lalu. Tidak ada anak yang tinggal bersamanya. Waktu menjadi ruang kosong yang sulit diisi.
“Saya sudah mencoba berhenti,” katanya kemudian, seolah menjawab pertanyaan yang tidak diajukan.
“Tapi tubuh saya tidak tahu caranya.”
Tes fisik membuktikan ucapannya. Ia menyelesaikan tanjakan tangga dengan langkah konstan, tanpa tergesa, tanpa berhenti. Peserta lain berlari, lalu kehabisan napas. Ia berjalan—dan terus berjalan.
Bukan karena ingin cepat sampai, tetapi karena ia tidak melihat alasan untuk berhenti.
John, yang menyaksikan dari balik kaca observasi, berbisik pada Jatmika, “Dia seperti mesin yang sudah lama disetel sempurna.”
Jatmika menggeleng pelan.
“Bukan mesin,” katanya. “Dia orang yang belum menemukan tempat untuk pulang.”
Ketika ditanya mengapa memilih jalur petarung, pria itu tidak menjawab dengan kata-kata besar.
“Kalau saya diam terlalu lama,” katanya, “saya mulai mengingat hal-hal yang tidak bisa diperbaiki.”
Ia tidak menyebut perang. Tidak menyebut kehilangan. Ia hanya menyebut diam—seolah itu lebih berbahaya daripada medan apa pun yang pernah ia hadapi.
Ny. Tien menandai satu catatan tambahan dalam profilnya:
Subjek menunjukkan stabilitas mental tinggi dalam kondisi berisiko.
Motivasi bukan ambisi, melainkan kontinuitas eksistensial.
Dalam bahasa manusia: ia tidak ingin menjadi penonton dari sisa hidupnya sendiri.
Saat pengumuman resmi selesai, Jatmika mendekatinya sekali lagi.
“Bapak yakin?” tanyanya. “Misi bisa membawa Anda ke tempat yang… tidak tercatat.”
Pria itu tersenyum tipis.
“Dulu, semua tempat yang penting juga tidak tercatat,” katanya.
“Kalau harus berhenti di suatu tempat, saya lebih memilih tempat yang masih membutuhkan saya.”
Untuk pertama kalinya hari itu, Jatmika tidak melihat teknologi sebagai pusat cerita ini. Ia melihat manusia—dan alasan mengapa, bahkan di usia sembilan puluh, seseorang masih memilih langkah ke depan dibandingkan kursi yang nyaman.
Tidak semua peserta menerima keputusan itu dengan lapang dada.
Beberapa berdiri dari kursinya. Ada yang bersuara lantang, ada pula yang memilih nada getir—keduanya sama-sama lahir dari kekecewaan yang tak sempat direncanakan.
“Kami melamar sebagai karyawan,” kata seorang pria muda. “Bukan sebagai petarung.”
Jatmika mendengarkan tanpa memotong. Ia telah belajar bahwa kemarahan sering kali bukan tentang apa yang ditolak, melainkan tentang harapan yang tidak pernah diuji sejak awal.
“Posisi karyawan sudah penuh,” katanya akhirnya. “Bukan karena kalian kurang mampu, tapi karena struktur perusahaan tidak bisa menampung semua bentuk keinginan sekaligus.”
Seorang peserta lain menyela, “Jadi kami dipaksa?”
Jatmika menggeleng pelan.
“Tidak. Kalian diberi pilihan yang tersisa.”
Ruangan menjadi sunyi dengan cara yang berbeda—bukan karena semua orang setuju, melainkan karena mereka menyadari bahwa tidak semua pintu ditutup dengan suara keras. Ada pintu yang ditutup dengan kejelasan.
“Jika kalian ingin mundur,” lanjut Jatmika, “tidak ada konsekuensi apa pun. Tidak ada catatan buruk. Tidak ada stigma. Tapi jika kalian memilih bertahan, maka kalian harus menerima peran yang dibutuhkan perusahaan saat ini, bukan peran yang kalian bayangkan.”
Beberapa keluar ruangan tanpa menoleh. Yang lain tetap duduk, menimbang sesuatu yang lebih berat dari sekadar jabatan: makna keberlanjutan.
Jatmika kemudian menampilkan struktur pangkat di layar besar.
Bukan bagan organisasi biasa.
Tidak ada kotak-kotak kaku, tidak ada anak panah naik turun berdasarkan usia atau masa kerja.
Hanya simbol.
Kapak Emas — pangkat awal petarung.
Mereka yang menjalankan misi, menjaga titik teleportasi, dan memasuki ruang yang belum dipetakan.
Di atasnya, pangkat-pangkat lain—nama-nama yang tidak merujuk pada jabatan, melainkan pada tanggung jawab.
Dan paling atas, hanya satu simbol:
Naga.
“Kapak Emas bukan tanda kekerasan,” kata Jatmika. “Ia tanda keputusan. Kalian memotong jalan yang belum pernah dilalui.”
“Dan Naga?” tanya seseorang.
Jatmika berhenti sejenak, seolah ingin memastikan bahwa kata-kata berikutnya tidak terdengar seperti janji kosong.
“Naga bukan pemimpin karena kekuasaan,” katanya.
“Ia pemimpin karena ia bertahan cukup lama untuk memahami akibat dari setiap perintah.”
Ia menatap para peserta satu per satu.
“Setiap misi, setiap temuan, setiap keputusan akan dicatat oleh sistem. Pangkat tidak diberikan—ia muncul, sebagai konsekuensi dari apa yang kalian lakukan ketika tidak ada yang menonton.”
Ny. Tien menambahkan dengan suara netral, nyaris tanpa emosi:
Kenaikan pangkat berbasis partisipasi, risiko, dan integritas keputusan.
Dalam bahasa manusia: tidak semua yang kuat naik pangkat. Hanya yang konsisten.
Sebagian peserta masih tampak ragu. Yang lain menunduk, mencerna.
Petarung lansia berdiri tanpa suara, memegang lambang Kapak Emas di tangannya sejenak, lalu mengangguk.
“Ini cukup,” katanya. “Saya tidak butuh lebih.”
Jatmika menatapnya dan menyadari sesuatu yang sederhana namun mengganggu:
Tidak semua orang mengejar Naga.
Sebagian hanya ingin tempat di mana langkah mereka masih berarti.
Dan bagi perusahaan yang bermain di batas teknologi dan mitologi, itu mungkin modal paling berharga.
Misi pertama tidak diawali dengan perjalanan, melainkan dengan tanda tangan.
Satu per satu para Kapak Emas membubuhkan nama mereka pada perjanjian yang disusun dengan bahasa yang nyaris tanpa metafora. Isinya sederhana, hampir kering: menjaga kerahasiaan perusahaan, bertanggung jawab atas setiap konsekuensi, dan menerima bahwa tidak semua akibat bisa diprediksi sebelum sebuah pintu dibuka.
Tidak ada ancaman tertulis. Tidak ada janji imbalan yang dilebihkan. Justru itulah yang membuat dokumen itu terasa berat. Setiap kalimat seolah menyiratkan bahwa ketidaktahuan bukanlah pembelaan.
Jatmika memperhatikan wajah-wajah mereka. Ia tahu, bagi sebagian orang, misi ini akan terasa seperti pekerjaan. Bagi yang lain, seperti takdir yang akhirnya menemukan bentuk.
Di ruang rapat utama, Jatmika duduk bersama Pak Toni dan Prof. Wen Shuyuan. Di hadapan mereka, proyeksi tiga dimensi berputar perlahan—bukan peta bumi, melainkan susunan planet yang selama ini hanya dikenal lewat buku pelajaran dan teleskop.
“Gua teleportasi di China,” kata Prof. Wen, “memiliki sesuatu yang tidak kami temukan di sini.”
Ia menampilkan gambar dinding gua: pahatan kuno, garis-garis yang tidak menyerupai rasi bintang, melainkan urutan. Planet-planet digambarkan berjajar, bukan sebagai simbol astrologi, melainkan seperti tujuan perjalanan.
“Kami awalnya mengira ini mitologi,” lanjutnya. “Tapi Ny. Tien membaca pola koordinat.”
Ny. Tien segera menimpali, suaranya datar namun presisi:
Koordinat valid terdeteksi. Titik tujuan: orbit Jupiter. Probabilitas kesalahan rendah. Kendala utama: transmisi sinyal lintas jarak ekstrem.
John, yang ikut mendengarkan dari sisi ruangan, bertanya, “Jadi teleportasi tidak cukup hanya dengan energi?”
“Energi selalu cukup,” jawab Jatmika pelan. “Yang sering tidak cukup adalah arah.”
Masalahnya bukan pada kemampuan membuka gerbang, melainkan pada menjaganya tetap sinkron. Semakin jauh tujuan, semakin rapuh hubungan antara titik asal dan titik tujuan. Jupiter bukan sekadar jauh; ia berada di wilayah di mana sinyal menjadi konsep yang tidak stabil.
“Kami butuh satelit yang lebih kuat,” kata Prof. Wen. “Bukan hanya untuk navigasi, tapi untuk mempertahankan kontinuitas.”
Jatmika mengangguk. Ia sudah menduga ke arah mana pembicaraan ini akan berujung.
“Dan sekarang,” lanjut Prof. Wen, “kami memilikinya.”
Ia menjelaskan kerja sama yang baru saja terjalin dengan sebuah perusahaan antariksa asal Amerika. Kesepakatannya tidak menyangkut teknologi teleportasi—itu tetap dirahasiakan—melainkan peminjaman infrastruktur satelit hingga orbit Jupiter.
Pak Toni tersenyum tipis. “Ironis,” katanya. “Mereka pikir kita hanya ingin meminjam mata. Padahal kita sedang membangun jalan.”
Jatmika memandang kembali ke layar, ke planet raksasa yang berputar dalam diam.
Teleportasi ke Jupiter bukan sekadar pencapaian teknis. Itu adalah pernyataan filosofis: bahwa manusia tidak lagi bertanya apakah kita bisa pergi sejauh itu, melainkan apa yang pantas kita bawa ketika sampai.
Ia menoleh ke para Kapak Emas yang menunggu di luar ruang rapat.
“Misi pertama,” katanya, lebih kepada dirinya sendiri daripada orang lain, “bukan tentang tiba di Jupiter.”
Ia berhenti sejenak.
“Melainkan tentang memastikan bahwa ketika kita membuka pintu sejauh itu, kita masih mengenali siapa diri kita saat melangkah masuk.”
Permintaan itu datang bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai koreksi logis.
Pengusaha satelit asal Amerika itu, setelah mengetahui bahwa satelitnya akan digunakan bukan sekadar untuk navigasi antarbenua, melainkan sebagai penopang teleportasi menuju planet luar, mengajukan satu syarat tambahan: para penelitinya harus dilibatkan.
“Bukan untuk mengendalikan,” katanya dalam sambungan konferensi, “hanya untuk memahami.”
Pak Toni langsung menyatakan keberatannya. Kesepakatan awal, menurutnya, jelas dan tertutup. Satelit dipinjam, data tetap milik mereka. Tidak ada klausul tentang partisipasi manusia tambahan.
“Teknologi ini belum stabil secara sosial,” ujar Pak Toni. “Menambah pihak berarti menambah variabel.”
Prof. Wen Shuyuan memandang persoalan itu dari sudut yang berbeda. Ia tidak membantah risiko, tetapi menghitung waktu.
“Mencari rekanan baru,” katanya, “berarti mengulang negosiasi, pengujian kompatibilitas sistem, dan membangun kepercayaan dari nol. Itu bisa memakan waktu bertahun-tahun. Jupiter tidak akan menjauh, tapi momentum kita bisa hilang.”
Perdebatan itu tidak menghasilkan kesimpulan. Karena itu, Jatmika memutuskan untuk tidak menunggu.
Ia berangkat ke Amerika bukan sebagai ilmuwan, juga bukan semata sebagai pengusaha, melainkan sebagai seseorang yang memahami bahwa teknologi sebesar ini tidak bisa hanya dimiliki—ia harus dinegosiasikan.
Pertemuan dilakukan di ruang yang dindingnya penuh layar orbit dan lintasan satelit. Sang pengusaha tampak lebih tertarik daripada curiga. Ia bukan orang yang ingin mencuri rahasia; ia ingin berada di dalam cerita sejak awal.
Jatmika tidak langsung berbicara tentang Jupiter. Ia berbicara tentang struktur.
“Perusahaan kami,” katanya, “tidak dibangun berdasarkan kepemilikan, melainkan partisipasi.”
Ia lalu mengajukan proposal yang tidak tercantum dalam draf mana pun sebelumnya.
Satelit dipinjamkan tanpa biaya. Sebagai gantinya, sang pengusaha—dan perusahaannya—menjadi bagian dari PT. Sinar Ultraviolet. Bukan sebagai pemegang kendali, melainkan sebagai simpul dalam jaringan yang lebih besar.
“Dan akses teleportasi?” tanya sang pengusaha.
“Diberikan,” jawab Jatmika. “Dengan batasan yang sama seperti kami membatasi diri sendiri.”
Tidak ada janji eksploitasi. Tidak ada klaim supremasi teknologi. Yang ditawarkan adalah kesempatan untuk hadir—pada sesuatu yang mungkin akan mengubah cara manusia memahami jarak.
Sang pengusaha terdiam lama. Ia memahami risikonya. Ia juga memahami bahwa menolak berarti hanya akan membaca sejarah dari luar.
Akhirnya ia mengangguk.
“Kami setuju.”
Ketika Jatmika kembali, Pak Toni masih terlihat khawatir.
“Kita membuka pintu terlalu lebar,” katanya.
Jatmika menggeleng pelan. “Tidak,” jawabnya. “Kita hanya memilih siapa yang berdiri di ambang pintu bersama kita.”
Dan di kejauhan, Jupiter tetap berputar, tak menyadari bahwa keputusan di sebuah ruang rapat di bumi telah membuatnya, untuk pertama kalinya, menjadi tujuan yang sungguh mungkin.
Pelatihan para petarung bertitel Kapak Emas dimulai tanpa seremoni.
Tidak ada pidato heroik, tidak ada janji kejayaan. Jatmika hanya mengatakan satu hal: bahwa siapa pun yang berada di tempat itu telah memilih jalan yang tidak bisa dijalani setengah-setengah.
Pelatihan dibagi menjadi tiga lapis yang tidak terpisah: fisik, akademik, dan bertahan diri. Ketiganya dirancang bukan untuk menciptakan prajurit yang patuh, melainkan individu yang mampu membuat keputusan di bawah tekanan ekstrem.
Di antara para peserta, dua nama segera menonjol.
Risky Mandang, karyawan internal yang sebelumnya nyaris tak diperhitungkan, menunjukkan nilai tertinggi dalam pengujian teori dan adaptasi lapangan. Ia bukan yang terkuat, tetapi ia selalu tahu kapan harus berhenti, kapan harus maju, dan kapan harus mengorbankan tenaga untuk hari berikutnya.
Yang lain adalah Joesoef, mantan tentara berusia sembilan puluh tahun. Tubuhnya tidak lagi muda, tetapi geraknya efisien—tanpa pemborosan. Ia tidak berlari paling cepat, namun selalu tiba. Seolah tubuhnya telah lama berdamai dengan rasa sakit.
Untuk bela diri, Jatmika mendatangkan seorang ahli mixed martial art dari Uzbekistan. Pria itu tidak banyak bicara. Ia mengajarkan bahwa bertarung bukan tentang menyerang, melainkan tentang bertahan cukup lama hingga lawan membuat kesalahan.
Latihan dijalankan tanpa kompromi.
Para peserta dipaksa berlari menanjak gunung hingga napas mereka terasa seperti api, lalu turun kembali dengan kaki gemetar. Mereka berenang menyusuri sungai berarus deras, melompat dari air terjun tanpa jaminan pendaratan yang sempurna. Dalam satu sesi tertentu, mereka bahkan harus berhadapan dengan beruang dari Rusia—bukan untuk mengalahkannya, melainkan untuk belajar membaca ketakutan mereka sendiri.
Tidak ada pendingin udara. Tidak ada batas waktu resmi. Tidak ada akhir yang jelas.
Hari demi hari, tubuh mereka berubah. Tetapi yang berubah lebih dahulu adalah cara mereka memahami kelelahan. Rasa sakit tidak lagi menjadi sinyal untuk berhenti, melainkan informasi—tentang batas, tentang risiko, tentang konsekuensi.
Beberapa peserta mundur. Tidak sedikit yang terluka. Namun yang bertahan mulai memahami bahwa pelatihan ini tidak dirancang untuk membuat mereka kuat.
Pelatihan ini dirancang untuk mengajarkan satu hal sederhana namun kejam:
bahwa hidup memang hanya sekali, tetapi pilihan—dan tanggung jawab atas pilihan itu—datang setiap hari, tanpa akhir.
Dan bagi para Kapak Emas, latihan bukan lagi fase persiapan.
Ia telah menjadi cara hidup.
Para peneliti utusan dari pengusaha Amerika datang dalam jumlah yang sulit diabaikan—seratus orang, masing-masing membawa keahlian, asumsi, dan keyakinan tentang bagaimana teknologi seharusnya bekerja.
Mereka tidak langsung dibawa ke ruang presentasi.
Jatmika justru menyerahkan mereka kepada Tim 10, dengan satu instruksi sederhana: perlakukan mereka bukan sebagai tamu, melainkan sebagai pembelajar. Teleportasi, menurutnya, tidak bisa dipahami lewat diagram atau simulasi. Ia harus dialami, lengkap dengan ketidaknyamanannya.
Pelatihan dimulai dari hal paling dasar: bagaimana berdiri, bagaimana bernapas, dan bagaimana menerima bahwa tidak semua perpindahan bisa dijelaskan secara instan. Banyak dari para peneliti itu terbiasa mengendalikan variabel; di sini, mereka justru diminta mengakui adanya faktor yang tidak sepenuhnya tunduk pada perhitungan.
Satu per satu, mereka diteleportasikan ke beberapa gua yang berbeda.
Tidak ada dua pengalaman yang sama. Sebagian merasakan jeda yang terlalu singkat untuk disadari, sebagian lain mengalami seolah ada detik yang memanjang. Beberapa keluar dengan wajah pucat, bukan karena rasa takut, melainkan karena kesadaran bahwa orientasi ruang yang selama ini mereka yakini ternyata rapuh.
Di dalam gua, Tim 10 tidak banyak menjelaskan. Mereka hanya menunjukkan jalur, simbol segel, dan batas-batas yang tidak boleh dilanggar. Para peneliti mencatat, mengukur, merekam—namun pada titik tertentu, mereka kehabisan istilah teknis untuk menggambarkan apa yang mereka alami.
Teleportasi itu bekerja. Tetapi tidak seperti yang mereka bayangkan.
Pada akhir hari, sebagian dari mereka mulai memahami bahwa teknologi ini bukan sekadar persoalan energi dan koordinat. Ia adalah pertemuan antara sistem, manusia, dan sesuatu yang belum sepenuhnya dapat diberi nama.
Dan di situlah, Jatmika tahu, kerja sama ini baru benar-benar dimulai.
Sesuai dengan janji awal, pengusaha Amerika itu menyediakan akses satelit, bekerja sama langsung dengan NASA. Biaya yang terlibat mencapai ratusan miliar rupiah—angka yang, bagi sebagian orang, terdengar seperti penghalang. Namun bagi proyek ini, angka itu justru menjadi pernyataan: bahwa manusia bersedia membayar mahal demi melampaui batas yang selama ini dianggap final.
Proyek tersebut segera dipahami sebagai sesuatu yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Bukan sekadar misi ilmiah, melainkan langkah pertama umat manusia menjelajah tata surya bukan dengan roket, melainkan dengan pemahaman baru tentang ruang.
Namun Prof. Wen Shuyuan segera mengoreksi asumsi yang berkembang.
Tujuan mereka bukanlah planet Jupiter.
Ia menjelaskan bahwa Jupiter, dengan radiasi ekstrem dan gravitasi masif, adalah lingkungan yang tidak memberi ruang bagi kesalahan. Sebaliknya, Callisto, salah satu bulannya, menawarkan kondisi yang lebih masuk akal: radiasi relatif rendah, medan gravitasi lebih ringan, dan permukaan yang stabil. Callisto bukan tujuan yang heroik, tetapi tujuan yang memungkinkan manusia untuk bertahan.
Bagi Wen Shuyuan, itu sudah cukup.
Jatmika meneruskan temuan tersebut kepada para peneliti Amerika. Respons mereka bukan sorak-sorai, melainkan keheningan yang diisi oleh perhitungan ulang. Mengubah tujuan berarti mengubah banyak hal—tetapi juga membuka kemungkinan yang sebelumnya tertutup.
Di sela diskusi teknis itu, perhatian Jatmika tertarik pada sesuatu yang lebih sederhana: baju astronot buatan Amerika. Ia mengamatinya bukan sebagai simbol status, melainkan sebagai lapisan perlindungan tipis antara tubuh manusia dan lingkungan yang tidak diciptakan untuknya.
“Apakah mungkin,” tanyanya kemudian, “kami mendapatkan baju seperti ini untuk orang-orang kami? Sekitar seratus orang.”
Michael, staf senior NASA, menjawab dengan hati-hati. Ia menjelaskan bahwa baju itu dirancang untuk menahan radiasi tinggi dan panas ekstrem, dengan biaya yang tidak kecil. Permintaan tersebut, menurut prosedur, hampir pasti tidak akan disetujui.
Jatmika mengangguk, seolah telah menduga jawabannya.
Namun malam itu, ia menghubungi pengusaha Amerika tersebut melalui sambungan pribadi—bukan untuk membahas spesifikasi teknis, melainkan visi jangka panjang. Percakapan mereka singkat, tanpa retorika berlebihan.
Lima hari kemudian, konfirmasi datang.
Seratus baju astronot akan dikirim.
Bagi Jatmika, keputusan itu bukan soal perlengkapan. Itu adalah pengakuan diam-diam bahwa proyek ini tidak lagi berdiri di pinggir kemungkinan, melainkan telah melangkah ke wilayah yang menuntut kesiapan penuh—baik secara teknologi, maupun sebagai manusia yang akan menggunakannya.