Chapter 71 Semedi di Ambang Cahaya
Isidore duduk bersila di atas tanah yang masih hangat oleh sisa pertempuran. Napasnya belum sepenuhnya teratur; luapan energi dari Bayang Agung dan sentuhan kekuatan Rasvatar masih berputar liar di dalam nadinya, seperti arus sungai yang meluap setelah badai besar. Keris di pangkuannya berkilau redup, seolah turut beristirahat bersama tuannya.
Para ksatria membentuk lingkaran pelindung.
Pangreksa menurunkan suhu udara di sekelilingnya, menenangkan panas yang membara di tubuh Isidore. Bayu Anggana mengalirkan angin lembut, ritmis seperti napas bumi. Sagara Putra meneteskan air suci ke tanah, menciptakan gema sunyi yang menenangkan jiwa. Guntur Wisesa menahan kilat di dalam dirinya, meredam getar yang berlebihan. Bhra Anuraga memadamkan bara amarah, sementara Rakajati menumbuhkan akar tipis yang menghubungkan Isidore dengan denyut kehidupan hutan.
“Tenanglah,” ujar Rakajati lirih. “Biarkan bumi memikul sebagian bebanmu.”
Perlahan, Isidore memejamkan mata. Napasnya menyatu dengan irama alam. Cahaya di sekelilingnya meredup, dan dunia pun menjauh.
Mimpi Leluhur Mythopia
Isidore berdiri di sebuah dataran luas yang disinari cahaya keperakan. Langit di atasnya bertabur bintang yang tak pernah ia kenal, dan angin membawa nyanyian lama—lagu yang hanya hidup dalam ingatan darah. Dari kabut cahaya, muncullah sosok-sosok berjubah putih dan emas, wajah mereka tenang, mata mereka menyimpan kebijaksanaan zaman.
Mereka adalah leluhur Mythopia.
Salah seorang melangkah maju, suaranya lembut namun bergema hingga ke relung jiwa:
“Isidore, pewaris cahaya dan penjaga batas. Jalanmu berat karena hatimu luas.”
Isidore menunduk hormat.
“Aku berusaha menjaga dunia ini, meski kegelapan selalu kembali.”
Sosok lain mengangkat tangannya, menunjuk ke arah bayangan jauh yang berdenyut gelap.
“Jagalah selalu hatimu dari keburukan. Kekuatan terbesar bukan pada pedang atau mantra, melainkan pada niat yang tak ternoda.”
Yang tertua di antara mereka mendekat, sorot matanya tegas namun penuh kasih.
“Berhati-hatilah bila kelak engkau bertemu Rasvatar lagi. Ia menguasai keburukan bukan karena kuat, melainkan karena manusia memberinya celah. Jangan biarkan amarah, ketakutan, atau kesombongan membuka pintu baginya.”
Isidore mengangkat wajahnya.
“Bagaimana aku bertahan, jika kegelapan menyentuh hatiku?”
Jawaban itu datang seperti embun pagi:
“Ingatlah siapa dirimu, dan untuk apa engkau berdiri. Selama engkau memilih welas asih di atas kuasa, cahaya akan menemukan jalannya.”
Cahaya di sekeliling mereka memudar perlahan. Nyanyian leluhur menjauh, meninggalkan satu kalimat terakhir yang menggema:
“Kau tidak berjalan sendiri.”
Isidore membuka mata. Lingkaran para ksatria masih setia menjaga. Hutan tampak lebih terang, dan beban di dadanya terasa berkurang. Ia menarik napas panjang, bangkit perlahan—lebih tenang, lebih jernih.
Di kejauhan, angin membawa bisikan masa depan.
Perjalanan belum usai, namun kini Isidore tahu: selama hatinya terjaga, kegelapan takkan berkuasa sepenuhnya.
Sementara Isidore masih duduk bersila dalam istirahatnya, berjuang menata kembali sirkulasi energi yang bergejolak di dalam tubuhnya, Pandika telah melangkah menjauh dari lingkaran para ksatria. Wajahnya serius, matanya tajam menembus kegelapan hutan Sinabung. Misi yang diembannya berbeda—sunyi, berbahaya, dan tak kalah penting: mencari para sandera yang direnggut oleh gerombolan kegelapan.
Angin malam membawa bau tanah basah dan darah lama. Namun tak satu pun jejak manusia dapat ia tangkap.
Dengan helaan napas panjang, Pandika merogoh sebuah kantong kecil berhiaskan sulaman cahaya, pemberian bangsa peri dari masa silam. Ia membukanya perlahan.
Dari dalam kantong itu, muncul seekor anak kucing hitam, perutnya gendut dan matanya setengah terpejam, seolah baru terbangun dari tidur panjang.
Namun makhluk itu bukanlah kucing biasa.
Tubuhnya mulai membesar—perlahan namun pasti. Tulangnya memanjang, ototnya mengeras, bulunya menebal seperti malam yang menggulung. Dalam sekejap, ia telah menjelma menjadi makhluk sebesar serigala raksasa, dengan sorot mata emas yang cerdas dan senyum malas penuh sindiran.
“Gelap sekali di dalam kantong itu,” gerutu makhluk itu dengan suara berat namun malas.
“Kenapa lama sekali aku dikeluarkan, hah, Pandika?”
Pandika menunduk sedikit, rasa bersalah terlintas di wajahnya.
“Mohon maafkan aku. Aku terlupa… tapi kini aku sungguh membutuhkanmu. Para sandera masih belum kutemukan. Hutan ini seperti menelan jejak mereka.”
Si Maung Kucing menguap lebar, memperlihatkan taringnya yang berkilau.
“Hm. Untuk pekerjaan sepenting ini… kau berutang satu kilo ikan segar.”
Pandika tersenyum tipis.
“Itu mudah. Sekarang cepatlah, endus jejak mereka.”
Makhluk itu menundukkan kepalanya, hidungnya bergerak-gerak menghirup udara. Ia berjalan beberapa langkah, lalu mendengus kesal.
“Kau ini menyusahkan. Terlalu lambat jika berjalan seperti manusia.”
Ia menoleh tajam.
“Naik saja ke punggungku.”
Tanpa banyak bicara, Pandika memanjat punggung si Maung Kucing. Tubuh makhluk itu kokoh dan hangat, denyut kekuatannya terasa seperti binatang purba yang telah lama menjaga hutan ini.
Dengan satu lompatan panjang, mereka melesat menembus semak dan akar, bayangan hitam melaju di antara pepohonan. Daun-daun beterbangan, dan tanah bergetar pelan di bawah langkah sang penjaga malam.
Di hadapan mereka, hutan Sinabung terbentang luas—sunyi, gelap, dan menyimpan jeritan yang belum terjawab.
Dan perburuan pun dimulai.
Chapter 73 Kekhawatiran di Bukit Kemuning
Sementara bayang-bayang peperangan masih menggantung di hutan Sinabung, Putri Dyah Sekar Tanjung memilih untuk tidak kembali ke Majapahit. Ia tetap berada di Bukit Kemuning, bersama kelompok pengawal setianya. Angin senja mengibaskan rambutnya, dan matanya menatap jauh ke arah pegunungan, seolah ingin menembus jarak dan kegelapan yang memisahkannya dari Isidore.
“Aku ingin tahu,” ucap sang Putri pelan namun tegas,
“musuh seperti apa yang dihadapi Isidore.”
Pendekar Bayangan Pertama, yang berdiri setengah tersembunyi di balik pepohonan, menundukkan kepalanya sedikit.
“Apa pun makhluk itu, Paduka Putri… jelas bukan manusia. Kegelapan yang ia keluarkan terlalu pekat, terlalu tua. Seperti malam yang hidup.”
Paman Hanggono melangkah maju, wajahnya diliputi kecemasan.
“Putri, sebaiknya kita kembali ke Majapahit. Ayah dan ibumu pasti sangat khawatir bila Paduka tak kunjung pulang.”
Namun Dyah Sekar Tanjung menggeleng perlahan.
“Paman,” katanya lembut namun berani,
“aku bukan lagi gadis yang hanya bersembunyi di balik dinding istana. Aku telah belajar ilmu bela diri. Aku bisa melindungi diriku sendiri.”
Belum sempat paman Hanggono menjawab, kupu-kupu hias berlapis emas yang selalu setia di sisi sang Putri tiba-tiba mengepakkan sayapnya dengan gelisah. Cahaya lembut memancar dari tubuh mungilnya, dan serbuk sari keemasan berpendar di udara.
Wajah sang Putri seketika memucat.
“Tidak…” bisiknya gemetar.
“Isidore…”
Ia merasakan pesan yang disampaikan kupu-kupu itu—keadaan Isidore sedang tidak stabil, aliran tenaga dalamnya bergejolak hebat, seperti sungai yang meluap tanpa tepi.
“Jika ini dibiarkan…” suaranya bergetar,
“kekasihku bisa mati.”
Ia menoleh cepat kepada Pendekar Bayangan Kedua, matanya menyala oleh keteguhan.
“Cepat. Antar pil ajaib ini kepada Isidore. Obat ini dapat menstabilkan kembali energinya. Jangan biarkan siapa pun menghalangimu.”
Pendekar Bayangan Kedua berlutut satu lutut, mengepalkan tangan di dada.
“Baik, Paduka Putri. Dengan nyawa saya sendiri, obat ini akan sampai.”
Tanpa menunggu perintah lebih lanjut, ia lenyap ke dalam rimbunnya hutan, menyatu dengan bayangan dan angin malam.
Putri Dyah Sekar Tanjung menatap kepergiannya, lalu menggenggam dadanya sendiri, berdoa dalam diam—
agar cahaya yang masih tersisa di dunia ini tidak padam sebelum waktunya.
Chapter 74 Bayangan yang Mengatur Langkah
Di kedalaman gua batu yang diselimuti cahaya redup, Ki Surya Dahana berdiri di hadapan bola kristal yang melayang perlahan di udara. Di dalamnya terpantul bayangan Isidore—duduk bersila, napasnya berat, dikelilingi para ksatria Mythopia yang berusaha menenangkan aliran tenaga dalamnya yang menyimpang.
Sorot mata Ki Surya Dahana mengeras.
“Energinya goyah,” gumamnya lirih, hampir seperti doa yang tercemar kesenangan tersembunyi.
“Kekuatan besar selalu menuntut harga.”
Ia mengangkat tongkatnya sedikit, kristal itu bergetar, lalu padam perlahan.
Ki Surya Dahana berbalik, jubahnya menyapu lantai batu.
“Bersiaplah,” perintahnya dingin.
“Sebentar lagi kita akan kedatangan tamu.”
Panggilan itu segera mengumpulkan para kepala suku—Orkaghor, Lorendis, Mhezzrak, dan Vorthax—di ruang pertemuan gua yang dikelilingi pilar batu kuno. Api obor menari liar, memantulkan bayangan mereka di dinding seperti makhluk-makhluk purba yang sedang berbisik.
“Isidore melemah,” ujar Lorendis sambil memainkan kipas beracunnya.
“Inilah saat yang tepat.”
Namun Vorthax menancapkan pedang Nagarastra ke tanah, suaranya berat seperti gemuruh.
“Jangan meremehkan ksatria Mythopia. Binatang terluka justru paling berbahaya.”
Ki Surya Dahana mengangkat tangan, menghentikan perdebatan.
“Kita tidak akan menyerang secara membabi buta. Kita akan menyambut mereka… di tanah yang telah kita pilih.”
Senyum tipis terlukis di wajahnya—senyum seseorang yang telah menyiapkan papan catur jauh sebelum bidak digerakkan.
Di Balik Formasi Penjagaan
Jauh dari gua itu, di bawah naungan pepohonan tua hutan Sinabung, Pandika berjongkok rendah di atas punggung Maung Kucing—yang kini berukuran sebesar serigala raksasa. Hidung makhluk itu bergetar, matanya menyipit tajam.
“Hentikan,” gumam Maung Kucing.
“Aku mencium darah… dan sihir. Banyak.”
Pandika menatap ke depan. Di sana terbentang formasi penjagaan yang ketat—lingkaran simbol tanah dan tulang, dijaga makhluk-makhluk bersenjata dan aura gelap yang saling bertaut, seperti jaring laba-laba tak kasatmata.
Ia menghela napas pelan.
“Kalau kita menghancurkan formasi ini,” bisiknya,
“kita pasti akan ketahuan.”
Tangannya mengepal, dilema membebani pikirannya.
“Dan kita belum tahu… musuh seperti apa yang sedang menunggu.”
Maung Kucing mendengus pelan.
“Kadang, anak manusia, yang paling berbahaya bukan yang terlihat,
tapi yang membiarkanmu masuk.”
Pandika terdiam.
Di hadapannya ada pilihan: menyerbu dan membahayakan semua sandera—
atau menunggu, sementara waktu terus mengalir menuju sesuatu yang lebih gelap.
Dan di balik kabut dan batu, perang yang belum diumumkan perlahan membuka matanya.
Sore itu hujan rintik-rintik turun perlahan, seakan langit sendiri enggan melukai bumi. Daun-daun lebar pepohonan tua menahan air hujan, menjatuhkannya setetes demi setetes ke tanah yang gelap dan lembap. Di lereng Gunung Sinabung, udara kian membeku; kabut turun menebal, merayap di antara batang-batang pohon seperti makhluk hidup yang mencari jalan.
Isidore menarik napas dalam-dalam. Saat ia menghembuskannya, asap putih keluar dari hidung dan bibirnya, menari sesaat sebelum lenyap ditelan kabut. Tubuhnya masih terasa berat, namun aliran tenaga di dalam dirinya telah kembali menyatu—tidak lagi liar, tidak lagi berontak.
Ia membuka mata.
“Aku sudah lebih baik,” ujarnya pelan, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada yang lain.
“Dan kita tidak boleh menunda.”
Ingatan akan para sandera—anak-anak, orang tua, dan jiwa-jiwa tak bersalah—mengetuk hatinya seperti palu sunyi. Kejahatan yang bersarang di Sinabung harus dipatahkan, sebelum malam turun sepenuhnya dan kegelapan mengambil lebih banyak korban.
Di sisi mereka, Rakajati berlutut dan menyentuhkan telapak tangannya ke tanah. Akar-akar pohon di sekeliling bergetar halus, lalu bergerak perlahan, menyibak lumut dan tanah basah. Dari belitan akar itu terbentuk sebuah jalur sempit, seakan hutan sendiri membuka rahasia yang telah lama disembunyikannya.
Rakajati bangkit, wajahnya serius.
“Tanah telah berbicara,” katanya dengan suara rendah.
“Jalan ini… mengarah ke tempat persembunyian Ki Surya Dahana.”
Akar-akar itu menunjuk ke arah yang diselimuti kabut paling pekat—ke sebuah lembah sunyi di mana cahaya enggan menetap.
Para ksatria saling berpandangan. Tak ada sorak, tak ada kata berlebihan.
Mereka tahu, langkah berikutnya bukan sekadar perjalanan, melainkan awal dari benturan kehendak yang akan menentukan nasib Sinabung—dan mungkin, nasib Mythopia itu sendiri.
Maka, di bawah hujan yang terus berbisik dan kabut yang menutup pandangan,
mereka melangkah maju, mengikuti jalan akar yang hanya berani dibuka bagi mereka yang siap menghadapi kegelapan.
Chapter 76 ksatria mythopia saling menyatukan kekuatan
Para ksatria menyatukan kehendak dan kekuatan, berdiri melingkar di bawah kanopi hutan yang menggelap. Tanah bergetar halus ketika energi mereka bangkit, dan udara di sekeliling berdesir seakan dunia menahan napas.
Surya Wikrama mengangkat pedangnya.
Dari bilahnya memancar cahaya emas, hangat namun tegas, seperti matahari pertama yang pernah menyinari dunia.
Di sisinya, Pangreksa menutup mata. Dari tubuhnya mengalir cahaya putih murni, bening dan dingin, laksana salju abadi yang tak tersentuh noda.
Bayu Anggana melangkah maju, kedua lengannya terentang. Seketika pusaran angin lahir di sekelilingnya, menderu kencang, mencabut daun dan ranting, membentuk lingkaran pelindung yang tak kasatmata.
Dari balik kabut, terdengar tarikan napas panjang.
Itu adalah Bhra Anuraga. Saat ia menghembuskannya, nafas api naga menyembur, merah membara, membuat udara bergetar oleh panas purba.
Sagara Putra mengangkat telapak tangannya ke langit. Cahaya biru muncul, beriak seperti laut dalam, membawa ketenangan sekaligus kedahsyatan samudra yang tak terukur.
Lalu, dengan dentuman yang mengguncang bumi, Guntur Wisesa memanggil kekuatan langit.
Sebuah kilat raksasa menyambar, membelah pepohonan dan awan. Langit kian mendung, gelap menggulung, seakan badai tunduk pada panggilannya.
Di tengah pusaran kekuatan itu, Ksatria Cheon Myeong muncul—hadirnya sunyi namun terasa agung, seperti bayangan pedang para dewa di masa silam.
Ia menatap Isidore.
“Perhatikan baik-baik,” ucapnya tenang.
“Inilah langkah mendominasi—jalan bagi mereka yang memegang kehendak pedang.”
Dalam sekejap mata, ia mengajarkan Gerakan Dewa Pedang:
tahap pertama hingga kelima—
langkah kaki, aliran napas, niat, dan tebasan yang menyatu dengan jiwa.
Isidore mengikuti.
Tak butuh waktu lama.
Meski keringat mengalir dan napasnya memburu, ia menguasai semua jurus itu—belum sempurna, namun cukup untuk membuat udara bergetar setiap kali ia bergerak.
Melihat kesiapan mereka, Rakajati menancapkan tangannya ke batang pohon raksasa di hadapan mereka. Kayu tua itu berderak, lalu terbuka, memperlihatkan lorong hidup di dalamnya—gelap, namun aman.
“Masuklah,” ujar Rakajati.
“Di sanalah kita bersiap.”
Satu per satu, para ksatria melangkah ke dalam batang pohon, meninggalkan hutan yang kini diselimuti badai.
Di balik kayu dan akar purba itu, takdir sedang diasah, dan perang yang tak terelakkan menunggu saatnya untuk dimulai.
Chapter 77 pertemuan dengan para kepala suku
Akar-akar purba membuka jalan terakhir.
Dari dalam perut bumi, para ksatria Mythopia melangkah keluar ke sebuah lembah batu yang tersembunyi—markas Ki Surya Dahana. Api unggun hitam menyala tanpa asap, dan simbol-simbol terlarang berpendar di dinding gua, seolah batu itu sendiri berdoa pada kegelapan.
Di sana mereka menunggu.
Para kepala suku—tubuh mereka telah berubah.
Urat-urat hitam menjalar di kulit, mata menyala dengan cahaya asing, dan senjata mereka bergetar oleh kekuatan gelap yang dipaksakan ke dalam jiwa.
Tak ada teriakan perang.
Tak ada aba-aba.
Pertempuran meledak dalam keheningan.
Bayu Anggana menjadi angin badai, menghantam barisan musuh dan melemparkan tubuh-tubuh berat seakan daun kering.
Bhra Anuraga beradu api dengan darah hitam, setiap tebasannya disambut raungan makhluk yang bukan lagi sepenuhnya manusia.
Sagara Putra memanggil air dari dalam tanah; gelombang biru menghantam dinding gua dan membekukan langkah lawan.
Guntur Wisesa menjatuhkan kilat demi kilat, namun kegelapan menelan cahaya itu, menolak untuk runtuh.
Pangreksa menahan serangan dengan es perak, retak—namun tak pernah pecah.
Rakajati mengikat musuh dengan akar hidup, hanya untuk melihatnya disobek oleh kekuatan gelap yang meraung marah.
Pertarungan itu tidak cepat.
Tidak pula mudah.
Setiap musuh yang jatuh bangkit kembali, dipaksa berdiri oleh kehendak yang bukan miliknya.
Setiap ksatria Mythopia terhuyung, bangkit lagi, bertahan oleh sumpah lama yang tak pernah ditulis.
Di tengah kekacauan itu, Isidore bergerak seperti cahaya yang mencari celah.
Pedangnya menari—gerakan dewa pedang masih belum sempurna, namun cukup untuk membelah bayangan dan menorehkan luka pada kegelapan itu sendiri.
Waktu berlalu tanpa hitungan.
Darah, cahaya, dan bayangan bercampur.
Lalu—
Langit gua bergetar.
Sebuah tongkat menghantam tanah.
Gelombang kekuatan menyapu medan perang dan memaksa semua langkah terhenti.
Dari balik tirai hitam, Ki Surya Dahana muncul.
Wajahnya tenang, terlalu tenang, namun matanya menyimpan badai keraguan dan ambisi. Jubahnya berkibar tanpa angin.
“Cukup,” ucapnya, suaranya menggema seperti perintah pada dunia.
“Pertempuran ini akan menghancurkan segalanya.”
Para kepala suku berhenti bergerak.
Para ksatria Mythopia menegang.
Isidore melangkah maju.
Pedangnya terangkat, napasnya berat, matanya menyala oleh tekad yang tak goyah.
“Tidak,” katanya, jelas dan dingin.
“Ini tidak akan berhenti.”
Ia menatap Ki Surya Dahana tanpa gentar.
“Selama kegelapan masih berdiri…
selama satu dari kita belum tumbang dan mengakui kekalahan…
pertarungan ini akan terus berlanjut.”
Keheningan jatuh, lebih berat dari batu.
Bahkan api hitam pun meredup sejenak.
Ki Surya Dahana menatap Isidore lama—
seolah untuk pertama kalinya ia melihat putra Raja Itharius bukan sebagai pewaris,
melainkan sebagai takdir yang tak bisa dihindari.
Dan di dalam diam itu, dunia tahu:
perang sejati baru saja dimulai.
Chapter 78 pandika membebaskan sandera
Di balik pepohonan tua lereng Gunung Sinabung, Pandika dan Si Maung bersembunyi dalam bayang-bayang.
Namun alam tak lagi sunyi.
Langit menggelap dengan cepat, awan berputar seperti kawanan burung hitam yang terusir dari sarangnya. Angin menderu membawa hawa dingin yang menggigit tulang, dan petir putih membelah angkasa dengan jeritan yang memekakkan telinga, menyambar pepohonan hingga hancur menjadi arang.
Si Maung mengangkat kepalanya, bulu tengkuknya berdiri.
“Ini bukan badai biasa,” geramnya pelan.
“Ini tanda. Para ksatria Mythopia telah memulai peperangan.”
Ia mengendus udara, napasnya berat.
“Aku mencium amarah mereka… cahaya, darah, dan tekad bercampur di dalam sana.”
Pandika mengepalkan tangannya, wajahnya menegang.
“Bagaimana mungkin mereka sudah dua langkah di depan kita?” gumamnya.
“Baru saja kita mengendap, kini dunia sudah berguncang.”
Si Maung menyeringai, memperlihatkan taringnya.
“Tak perlu berpikir panjang lagi,” katanya.
“Jika perang telah dimulai, maka diam adalah kematian.”
Pandika mengangguk.
Ia melangkah maju dan mencabut pedangnya. Cahaya lembut seperti sinar bulan mengalir di bilahnya.
Dengan napas panjang, ia mulai menggerakkan tubuhnya—
Tarian Bulan.
Gerakannya perlahan, indah, dan penuh perhitungan. Setiap langkah seakan mengikuti irama langit, setiap ayunan pedang membelah udara dengan kilau perak. Namun waktu berlalu terlalu lama.
Si Maung mendengus kesal.
“Kau menari terlalu lama!”
Tanpa menunggu, tubuhnya membesar sepenuhnya.
Dengan raungan yang mengguncang tanah, Si Maung menerjang formasi pertahanan—
patok-patok sihir, simbol terlarang, dan penghalang batu—
semuanya hancur luluh oleh cakarnya, tercabik seperti dedaunan rapuh.
Ketika Pandika menyelesaikan tarian terakhirnya dan menjejakkan kaki dengan mantap, ia terdiam.
Formasi pertahanan telah menjadi puing-puing tak berbentuk.
“Ah…” gumamnya, sedikit bingung.
Namun Pandika tak ingin tarian sucinya menjadi sia-sia.
Ia mengangkat pedangnya tinggi-tinggi.
Seluruh cahaya putih yang telah ia kumpulkan dalam tarian itu mengalir ke satu titik.
Dengan satu tebasan ke depan—
BOOM!
Pintu batu gua di hadapan mereka meledak berkeping-keping, hancur oleh cahaya perak yang menyilaukan.
Debu mereda.
Di balik reruntuhan itu terbentang lorong bawah tanah—
dan di sanalah mereka melihatnya.
Para sandera.
Orang tua, perempuan, dan anak-anak, terkurung dalam sel-sel batu, wajah mereka pucat oleh ketakutan dan kelelahan.
Para penjaga berusaha melawan, namun sia-sia.
Pandika bergerak cepat, setiap tebasannya melumpuhkan tanpa membunuh.
Sementara itu, Si Maung mengamuk—
mencabik barisan prajurit hingga mereka berhamburan dalam teror.
Para master ilmu hitam yang tersisa tak berani bertarung.
Melihat darah dan taring, mereka berlari tunggang-langgang ke dalam kegelapan, meninggalkan segalanya.
Lorong itu akhirnya sunyi.
Hanya napas para sandera dan gema air dari dinding gua yang tersisa.
Si Maung menoleh ke Pandika.
“Utangmu bertambah,” katanya santai.
“Bukan sekilo. Dua kilo ikan segar.”
Pandika tersenyum lelah, namun matanya lega.
“Kau akan mendapatkannya,” jawabnya.
“Hari ini… kita menyelamatkan banyak nyawa.”
Dan di kejauhan, gema perang terus bergetar
Kekacauan di dalam perut gunung semakin menjadi-jadi.
Dari kejauhan terdengar dentuman petir, jeritan makhluk kegelapan, dan gemuruh tanah yang bergetar seolah dunia hendak runtuh. Cahaya merah dan biru silih berganti memantul di dinding gua, seperti kilatan perang para dewa.
Pandika berdiri di hadapan deretan sel batu. Dengan satu ayunan pedang yang terukur, palang-palang besi terbelah, jatuh ke tanah dengan bunyi nyaring.
“Kalian bebas,” ucapnya lantang namun tenang.
“Jangan berpencar. Ikuti kucing besar itu—dia akan membawa kalian ke tempat yang aman.”
Si Maung berdiri di depan lorong, tubuhnya menjulang seperti penjaga gerbang kuno. Matanya menyala lembut, namun taringnya mengingatkan bahwa ia bukan makhluk yang boleh diremehkan.
“Cepat,” geramnya pelan.
“Aku tak bisa menjamin dinding ini akan tetap berdiri lama.”
Para sandera, dengan tubuh lemah dan mata penuh ketakutan, mulai bergerak. Anak-anak digendong, orang tua ditopang. Harapan perlahan menggantikan putus asa.
Namun Pandika tidak ikut bergerak.
Matanya menyapu wajah-wajah satu per satu.
“Tunggu,” katanya.
“Apakah di antara kalian ada yang bernama Mei Mei?”
Sejenak sunyi menyelimuti lorong.
Lalu, dari barisan belakang, seorang gadis muda melangkah ragu. Wajahnya pucat, rambutnya tergerai kusut, namun matanya masih menyimpan cahaya keberanian.
“I… iya,” jawabnya lirih.
“Itu saya.”
Pandika menghembuskan napas panjang, seolah beban berat terangkat dari dadanya.
“Syukurlah,” katanya tulus.
“Kau masih hidup. Orang tuamu di desa sangat mengkhawatirkanmu. Mereka menunggu kepulanganmu setiap hari.”
Mata Mei Mei berkaca-kaca. Tangannya gemetar, namun ia mengangguk.
Pandika menunduk sedikit, menatapnya sejajar.
“Sekarang dengarkan aku baik-baik,” ujarnya lembut namun tegas.
“Ikuti kucing besar itu. Jangan menoleh ke belakang, apa pun yang kau dengar. Di luar sana ada jalan menuju keselamatan.”
Si Maung menoleh, ekornya mengibas.
“Naik ke punggungku jika kau tak sanggup berjalan,” katanya singkat.
Mei Mei mengangguk lagi, lalu berbalik mengikuti rombongan.
Sebelum pergi, ia menoleh sesaat pada Pandika.
“Terima kasih, Tuan Ksatria…”
Pandika hanya tersenyum tipis.
“Pergilah. Hidupmu lebih berharga daripada perang ini.”
Saat para sandera menghilang di lorong gelap menuju cahaya, Pandika berdiri sendiri di ambang kehancuran.
Ia mengencangkan genggaman pada pedangnya.
Di kejauhan, perang semakin mengamuk—
dan ia tahu, tugasnya belum selesai.
Pandika berdiri di mulut gua hingga bayangan terakhir para sandera lenyap bersama si Maung ke balik pepohonan basah. Ia menghembuskan napas panjang.
Tak satu pun tertinggal.
Tugas itu telah selesai.
Kini, hanya satu jalan tersisa—kembali ke jantung badai.
Ia melangkah menuju medan perang, tempat tanah bergetar oleh benturan kekuatan dan udara dipenuhi bau besi, darah, serta sihir gelap. Di antara kabut dan reruntuhan batu, muncullah sesosok tinggi berjubah kelam: Lorendis, kepala suku Rakayan, si licik pemutar maut.
Wajah Lorendis memerah oleh amarah.
Matanya menyala seperti bara.
“Jadi kau,” desisnya.
“Ksatria pengganggu yang membuat seluruh penjagaku pingsan… dan membiarkan mangsaku kabur.”
Ia tertawa kecil—tawa yang dingin dan beracun.
“Sendirian pula. Kau sungguh berani… atau bodoh.”
Lorendis mengangkat tangannya. Dari balik jubahnya keluar kipas hitam bertepi perak, berkilau oleh racun yang tak terlihat. Saat kipas itu terbuka, udara di sekitarnya bergetar, seolah jarum-jarum kematian telah menunggu perintah.
Pandika tidak menjawab.
Ia menutup mata sejenak.
Dalam benaknya terngiang suara gurunya, lama terkubur oleh perjalanan dan peperangan:
“Pedang bukanlah alat kemarahan, Pandika.
Ia adalah tarian—dan hanya mereka yang menari dengan hati tenang yang dapat memotong takdir.”
Matanya terbuka.
“Sudah waktunya,” bisiknya.
“Aku mencoba jurus itu.”
Ia melangkah maju—namun bukan seperti prajurit.
Gerakannya mengalir, ringan dan berirama, seperti penari yang menyatu dengan angin dan tanah.
Lorendis terbahak.
“Apa ini?” ejeknya.
“Tarian penghibur sebelum mati?”
Dengan satu kibasan kipas, puluhan jarum beracun melesat seperti hujan maut. Udara menjerit saat jarum-jarum itu membelah ruang.
Namun Pandika berputar.
Tubuhnya melengkung, melayang, lalu meloncat dengan salto ke belakang, tumitnya hampir menyentuh tanah, jubahnya berputar mengikuti irama tak kasatmata. Jarum-jarum itu hanya menyentuh bayangan.
Belum sempat Lorendis menarik napas, Pandika sudah melesat maju.
Dengan kedua tangan, ia mengangkat pedangnya tinggi-tinggi—
lalu menghantamkannya ke lantai gua.
BRAAAAM—!
Tanah retak. Batu ambruk.
Gelombang energi putih memancar seperti kilat yang dibekukan.
Lorendis tersentak, matanya membelalak.
Ia melompat mundur, nyaris terjerembap ke dalam rekahan tanah yang menganga.
Untuk pertama kalinya, tawanya terhenti.
Di antara debu dan runtuhan, Pandika berdiri tegak.
Pedangnya bergetar pelan, seolah ikut merasakan panggilan takdir.
“Sekarang,” katanya tenang.
“Giliranmu menari.”
Kabut debu menggantung di udara gua seperti tirai perang. Cahaya kilat dari luar sesekali menembus celah batu, menerangi dua sosok yang kini saling berhadapan—Pandika, tenang bagai air dalam, dan Lorendis, gelap dan bergetar oleh amarah.
Lorendis mengangkat kipas racunnya tinggi-tinggi. Dengan teriakan melengking, ia memutar tubuhnya, dan ratusan jarum beracun melesat serentak, membentuk pusaran maut yang menutup segala jalan.
Namun Pandika bergerak lebih dulu.
Langkahnya ringan, nyaris tak menyentuh tanah. Ia berputar ke samping, meluncur di antara celah jarum seperti bayangan bulan di permukaan air. Setiap gerakannya mengalir—satu putaran, satu lompatan, satu tebasan yang tidak langsung menyerang, melainkan mengubah ruang.
Jarum-jarum itu menancap ke dinding gua, mendesis, melelehkan batu—
namun tak satu pun menyentuh Pandika.
“Mustahil…!” desis Lorendis, suaranya mulai retak.
Pandika maju.
Pedangnya berkilau putih pucat, seakan memantulkan cahaya bulan yang tak ada di langit.
Ia memulai Tarian Bulan sepenuhnya.
Setiap langkah adalah irama,
setiap ayunan adalah gema.
Pedangnya menyapu udara—
BUUM!
Satu tebasan menghantam pilar batu. Pilar itu retak dan runtuh, separuh dinding gua ambruk dengan suara menggelegar. Tanah bergetar, stalaktit berjatuhan seperti hujan batu.
Lorendis terhuyung. Ia mencoba membuka kipasnya lagi, melepaskan jarum-jarum terakhir—namun Pandika sudah berada terlalu dekat.
Dengan putaran cepat, Pandika menghindar, lalu menghentakkan kaki ke lantai dan menghantamkan pedangnya ke tanah dengan seluruh kekuatan yang telah ia kumpulkan sejak awal pertarungan.
DOOOOOM—!
Lantai gua pecah terbuka. Gelombang kejut menyebar, mengoyak udara dan batu. Reruntuhan beterbangan ke segala arah.
Lorendis terlempar ke belakang, tubuhnya menghantam dinding gua. Batu-batu besar runtuh menimpanya, menghujam bahu dan kakinya. Ia terjatuh berlutut, kipasnya terlepas dari genggaman, berderak di antara puing.
Debu perlahan turun.
Pandika berdiri di tengah kehancuran, napasnya teratur, matanya tajam namun tidak dipenuhi kebencian.
Lorendis terbatuk, darah mengalir dari sudut bibirnya. Matanya menatap Pandika—
bukan lagi dengan ejekan,
melainkan dengan ketakutan yang telanjang.
“Aku… kepala suku Rakayan…” gumamnya.
“Aku… tak seharusnya kalah…”
Pandika mengangkat pedangnya, ujungnya menunjuk lurus ke arah Lorendis.
“Bukan aku yang mengalahkanmu,” katanya pelan namun bergema.
“Keserakahanmulah yang menjatuhkanmu.”
Dinding gua yang tersisa terus berderak, seolah tempat itu sendiri tak lagi sanggup menahan beban dosa dan darah.
Dan di antara runtuhan itu,
nasib Lorendis kini berada di ujung pedang Pandika—
menunggu apakah bulan akan mengakhiri tarian,
atau memberi satu napas terakhir sebelum gelap abadi.
Saat ujung pedang Pandika hampir menyentuh leher Lorendis—
bum!
Ledakan energi gelap meletup dari kedalaman gua, jauh lebih dalam dari ruang pertarungan mereka. Tanah bergetar hebat. Dinding gua menjerit, retakan menjalar seperti urat hitam. Debu dan kerikil beterbangan, memadamkan cahaya sesaat.
Pandika terhuyung, naluri pejuangnya berteriak satu hal:
sesuatu telah bangkit.
Ia menoleh sekilas ke Lorendis—kepala suku itu tersenyum miring di balik darah dan debu.
“Sudah terlambat…” gumamnya.
Tanpa membuang waktu, Pandika berlari ke arah ledakan. Ia mengikuti aliran air bawah tanah, melompat dari batu ke batu, menyusuri lorong sempit yang semakin dingin dan gelap. Udara berubah—lembap, berat, dan berbau kematian lama.
Lalu ia tiba.
Sebuah ruang gua raksasa terbentang di hadapannya. Di tengahnya, lima peti mati batu hitam berdiri melingkar, dipenuhi ukiran kutukan dan simbol kuno. Retakan cahaya ungu gelap menyelinap keluar dari sela-sela tutupnya.
Satu per satu—
KRRAAKK—
Tutup peti mati terbuka.
Dari dalamnya bangkit lima ksatria kegelapan.
Tubuh mereka tinggi dan kekar, dibalut zirah hitam kusam yang tampak hidup, berdenyut seperti daging. Mata mereka menyala suram—merah, ungu, dan hijau pucat. Setiap langkah mereka membuat tanah mengerang.
Para kepala suku yang tersisa berlutut di kejauhan, tertawa dan bersorak.
“Lihatlah!” teriak salah satu dari mereka dengan pongah.
“Inilah ksatria sejati! Kekuatan mereka melampaui ksatria Mythopia!”
Masing-masing ksatria kegelapan mengangkat senjatanya:
Pedang raksasa berasap hitam,
Tombak berduri berdenyut,
Kapak bermata ganda yang meneteskan cairan gelap,
Rantai berduri yang bergetar sendiri,
Dan satu sosok terakhir—tanpa senjata, namun auranya paling menyesakkan.
Mereka serentak melepaskan aura suram.
Udara pecah. Air sungai bawah tanah beriak liar. Batu-batu di langit-langit gua runtuh.
Lalu mereka berteriak.
Suara itu bukan sekadar teriakan perang—
ia adalah jeritan kematian dari ratusan jiwa yang pernah mereka bunuh.
Telinga Pandika berdengung. Lututnya hampir goyah. Napasnya tercekat.
Untuk pertama kalinya sejak ia mengangkat pedang—
Pandika merasa kecil.
Aku tidak akan sanggup…
Satu saja mungkin bisa kuhadapi… tapi lima…
Tangannya mencengkeram gagang pedang lebih erat, namun kali ini bukan karena kemarahan—
melainkan karena ketakutan yang jujur.
Ia tahu satu hal dengan pasti:
jika para ksatria kegelapan ini keluar dari gua,
Mythopia akan tenggelam dalam malam tanpa akhir.
Dan Pandika—
sendiri di kegelapan itu—
harus memilih:
bertahan, melarikan diri, atau mencari cara lain untuk melawan sesuatu yang bahkan pedang pun gentar menghadapinya.
“HENTIKAN, ISIDORE!”
Suara Ki Surya Dahana menggema menembus dentuman senjata dan teriakan perang. Tongkatnya menghantam tanah, menciptakan gelombang penahan yang memisahkan dua kubu sesaat.
“Jika ini diteruskan, Mythopia tak hanya kehilangan tanah—
tapi juga jiwanya.”
Namun Isidore tak menoleh.
Matanya menyala—bukan gelap, bukan terang, melainkan campuran berbahaya dari keduanya. Energi di sekeliling tubuhnya berdenyut tak stabil, tanah di bawah kakinya retak-retak.
“Jika aku berhenti sekarang,” ucap Isidore dingin,
“mereka akan bangkit kembali dan membunuh lebih banyak yang tak bersalah.”
Ia melangkah maju.
Para ksatria Mythopia mengikutinya—tak satu pun mundur.
Dan saat itulah…
langit runtuh.
Udara membeku. Cahaya tersedot ke satu titik di tengah medan perang. Dari pusaran kegelapan itu, lima sosok melangkah keluar—zirah mereka asing, aura mereka salah.
Pangreksa terhenti. Napasnya tercekat.
“…tidak…”
“Itu… itu mustahil…”
Sosok pertama melangkah maju.
Bayangannya tidak mengikuti tubuhnya—justru menyebar dan menjalar ke bayangan para ksatria Mythopia.
Candra Wisesa — Ksatria Bayangan Gerak.
Saat ia mengangkat tangannya perlahan, bayangan Pangreksa di tanah membeku.
Sekejap kemudian—tubuh Pangreksa ikut terkunci, tak mampu bergerak satu jari pun.
“Bayanganmu selalu setia,” ujar Candra tenang.
“Sayang sekali… sekarang ia setia padaku.”
Sosok kedua menghantam tanah dengan langkah berat. Suara retak—krek—krek terdengar di udara, seperti tulang yang dipatahkan paksa.
Raksapati Mahodra — Ksatria Tulang.
Tanpa menyentuh siapa pun, beberapa ksatria berteriak kesakitan. Lengan mereka terpuntir ke arah yang mustahil. Dari tubuh Raksapati sendiri, tulang-tulang mencuat keluar, menyusun zirah putih pucat yang berkilau dingin.
Kabut turun tiba-tiba.
Basah. Dingin. Masuk ke paru-paru.
Tirta Samirana — Ksatria Kabut.
Ia tak terlihat—hingga jeritan terdengar.
Seorang ksatria Mythopia terjatuh, memegangi lehernya, napasnya tercekik oleh tangan yang tak pernah terlihat.
Tanah mulai memerah.
Setetes darah jatuh—lalu bergerak sendiri.
Prawira Sangkala — Ksatria Darah.
Setiap luka yang terbuka menjadi miliknya. Darah di tanah membentuk simbol, jerat, dan duri hidup. Medan perang menjadi perangkap bernapas.
Dan terakhir—
tanah bertekuk lutut.
Ksatria Mythopia terhempas ke tanah seolah gravitasi dunia berubah arah.
Jagad Wiyasa — Ksatria Gravitasi.
Ia tidak bergerak cepat.
Ia tidak perlu.
Dunia sendirilah yang menyeret musuh ke hadapannya.
Bhra Anuraga mengaum marah. Nafas api naga keluar dari mulutnya, membakar udara.
“KALIAN SUDAH MATI!”
“MENGAPA KAU GANGGU MEREKA YANG TELAH ISTIRAHAT?!
BIARKAN MEREKA TENANG DI ALAM SANA!”
Surya Wikrama melangkah maju, pedangnya bersinar emas menyilaukan. Cahaya pemurnian menyapu kelima ksatria kegelapan, mencoba menyentuh jiwa yang tersisa.
Namun…
cahaya itu retak.
Jiwa-jiwa itu menolak.
Candra Wisesa tersenyum—senyum yang pernah dikenal Pangreksa, senyum seorang sahabat.
“Pemurnian?” katanya pelan.
“Kami sudah memilih.”
Ia mengangkat tangannya, dan bayangan semua yang hadir bergetar.
“Kalian harus membunuh kami sekali lagi,” lanjutnya.
“Untuk pertemuan yang indah ini.”
Isidore akhirnya berbicara.
Suaranya bergetar—bukan karena takut,
melainkan karena duka yang dipendam paksa.
“Jika ini satu-satunya jalan…”
“maka aku yang akan menanggung dosanya.”
Langkahnya maju satu tapak.
Dan pada detik itu—
perang Mythopia berubah dari perang wilayah
menjadi perang jiwa.
Bayangan Pangreksa masih terkunci di tanah.
Kakinya gemetar, bukan karena takut, tapi karena kenangan.
Candra Wisesa berdiri beberapa langkah di depannya, pedangnya belum terhunus. Wajah itu—tak berubah sejak hari mereka berlatih di halaman batu Mythopia, sejak malam terakhir sebelum Candra gugur melindungi desa perbatasan.
“Kau selalu lambat bereaksi, Pang,”
ucap Candra ringan, hampir bercanda.
“Bayanganmu selalu tertinggal.”
Pangreksa menggeram. Cahaya putih dari tubuhnya berkedip tak stabil.
“Itu karena aku selalu menunggumu,” balasnya lirih.
“Agar kita bergerak bersama.”
Candra terdiam sesaat.
Bayangan di tanah bergetar—mengendur sedikit.
Namun kemudian mengeras kembali.
“Itu dulu,” katanya dingin.
“Sekarang aku bergerak sendiri.”
Candra mengangkat tangan.
Bayangan Pangreksa tertarik paksa, menekan tubuhnya ke tanah. Retakan es merambat dari telapak kaki Pangreksa ke dada—dingin yang bukan berasal dari suhu, melainkan keputusasaan.
“Menyerahlah,” ujar Candra.
“Bayanganmu sudah memilih.”
Pangreksa menutup mata.
Dalam gelap itu, ia melihat kilasan masa lalu:
dua ksatria muda tertawa di tengah salju, berbagi roti kering, bersumpah akan mati sebagai penjaga Mythopia.
“Tidak…”
Pangreksa membuka mata, dan cahaya putih menyala penuh.
“Bayanganku tidak memilih.”
“AKU YANG MEMILIHNYA.”
Ia menghantamkan pedangnya ke tanah.
Bukan ke Candra—
melainkan ke bayangannya sendiri.
Cahaya putih menyambar, membakar bayangan di tanah hingga terpisah dari kendali Candra. Rasa sakit menghantam Pangreksa—urat-urat energinya terkoyak, darah mengalir dari sudut bibir.
Namun tubuhnya bebas.
Candra mundur satu langkah. Untuk pertama kalinya—matanya melebar.
“Kau memutus ikatan bayangan…”
“Itu akan memendekkan umurmu.”
“Lebih baik hidup singkat,” jawab Pangreksa sambil berdiri,
“daripada hidup tanpa kehendak.”
Mereka saling menatap.
Dua sahabat.
Dua jalan yang tak mungkin bertemu lagi.
Candra akhirnya mencabut pedangnya. Bayangannya menjalar seperti sayap hitam di belakangnya.
“Kalau begitu,” katanya pelan,
“biarkan aku mengakhirinya dengan layak.”
Pangreksa mengangkat pedangnya, cahaya putih membentuk lingkaran es di sekelilingnya.
Pedang bertemu.
Benturan pertama menghancurkan tanah.
Benturan kedua memecah udara.
Benturan ketiga—membuat bayangan dan cahaya saling menelan.
Candra bergerak cepat—bayangannya menyerang lebih dulu, mengikat kaki Pangreksa. Namun Pangreksa memutar pedangnya, menciptakan cahaya murni tanpa bayangan—ruang kosong tempat kegelapan tak bisa berpegangan.
Candra terhuyung.
“Kau selalu menemukan cara…”
gumamnya, suaranya retak.
“Itulah yang membuatku percaya padamu.”
Pangreksa menerjang.
Pedangnya menembus dada Candra—namun bukan ke jantung.
Ia menusuk tepat di pusat bayangan.
Cahaya putih menyebar, memisahkan jiwa Candra dari belenggu kegelapan. Bayangan hitam runtuh seperti abu.
Candra terjatuh berlutut.
Wajahnya kembali tenang. Senyum kecil muncul—senyum yang lama hilang.
“Terima kasih…”
“Kau menungguku… sampai akhir.”
Tubuh Candra berubah menjadi serpihan cahaya kelabu, naik ke udara seperti salju yang mencair.
Pangreksa berlutut di tanah.
Pedangnya tertancap, tangannya gemetar.
Ia tidak menang.
Ia melepaskan.
Di kejauhan, Isidore menyaksikan semuanya.
Dan ia sadar—
setiap kemenangan hari ini
akan selalu dibayar dengan kehilangan.
Cahaya putih yang tadi menyala kini meredup.
Pangreksa masih berlutut, pedangnya tertancap di tanah yang retak. Salju halus—entah dari es atau debu cahaya—jatuh perlahan di sekelilingnya.
Napasnya tersengal.
Setiap tarikan udara terasa seperti pecahan kaca di paru-parunya.
Krek…
Suara itu bukan dari tanah.
Itu dari dalam tubuhnya sendiri.
Retakan es merambat di sepanjang lengannya, bukan membeku—melainkan mengunci aliran energi. Pemutusan bayangan telah merusak jalur keseimbangan yang selama ini menahan kekuatan Pangreksa.
Ia mencoba berdiri.
Kakinya gagal menopang.
Tubuhnya ambruk ke samping.
“Pangreksa!”
teriak Bhra Anuraga, api di tubuhnya langsung padam setengah langkah sebelum mendekat.
Surya Wikrama menoleh tajam. Cahaya emasnya bergetar—ia tahu tanda itu.
“Jangan sentuh dia sembarangan,” ucap Surya rendah.
“Bayangannya telah terputus… tapi luka spiritualnya masih terbuka.”
Pangreksa terbaring telentang.
Matanya terbuka, namun pandangannya kosong—seolah melihat dua dunia sekaligus.
“Dingin…”
bisiknya.
“Aneh… padahal aku ksatria es.”
Bayu Anggana berlutut di sisinya, menahan angin agar tak mengganggu medan energi.
“Itu bukan dingin, Pang,” katanya pelan.
“Itu kehampaan.”
Pangreksa tersenyum tipis—senyum rapuh.
“Jadi… beginilah rasanya…”
“Berjalan tanpa bayangan.”
Tiba-tiba tubuhnya melengkung.
Energi putih meledak keluar, lalu runtuh kembali seperti ombak pecah. Es di sekitarnya mencair seketika, berubah menjadi air hangat—tanda kekuatan esnya kehilangan poros.
Surya Wikrama menusukkan pedangnya ke tanah, cahaya emas membentuk segel penahan.
“Ia tak akan mati sekarang,” katanya.
“Tapi mulai hari ini… Pangreksa tidak akan pernah bisa bertarung seperti dulu.”
Bhra Anuraga mengepalkan tinju, api di matanya bergetar marah dan takut.
“Sialan… Candra… dan kegelapan terkutuk ini…”
Pangreksa menarik napas panjang—lalu tertawa kecil, batuk darah menyusul.
“Jangan marah…”
“Aku memilih ini.”
Ia memalingkan wajah sedikit, menatap Isidore yang berdiri tak jauh, wajahnya tegang.
“Isidore…”
“Kalau kau ragu nanti… ingat aku.”
Isidore berlutut di sisinya.
“Aku tidak ingin kemenangan seperti ini,” katanya jujur.
Pangreksa menggeleng lemah.
“Tidak ada kemenangan tanpa harga.”
“Yang penting… kau tidak menjadi seperti mereka.”
Kelopak matanya mulai berat.
Cahaya putihnya menyusut menjadi bara kecil di dadanya—masih hidup, tapi tak lagi utuh.
Surya Wikrama berdiri perlahan.
“Bawa Pangreksa ke lingkar pemulihan,” perintahnya.
“Dan bersiap.”
Ia menoleh ke medan perang, ke empat ksatria kegelapan yang tersisa.
“Karena setelah satu ksatria jatuh…”
“Dunia akan menagih darah yang lain.”
Di kejauhan, kabut kembali bergetar.
Dan Isidore sadar—
jika satu persahabatan saja bisa mematahkan seorang ksatria agung,
berapa banyak lagi yang akan hancur sebelum malam ini berakhir?
Amarah Bhra Anuraga meledak tanpa sisa.
Api tidak lagi sekadar membungkus tubuhnya—
api menjadi tubuhnya.
Udara di dalam gua bergetar, mengerang seperti logam dipanaskan. Batu-batu dinding memerah, lalu berpijar, seakan jantung gunung Sinabung sendiri terbangun dan murka. Retakan tanah menyemburkan hawa panas yang memaksa para kepala suku mundur tergopoh-gopoh.
“Ini kegilaan!”
teriak salah satu dari mereka, melarikan diri sambil menahan wajahnya yang melepuh oleh panas.
Bhra Anuraga melangkah maju.
Setiap jejak kakinya meninggalkan lelehan batu.
Matanya menyala—bukan merah, bukan oranye—melainkan putih membara, warna inti api yang tak mengenal belas kasihan.
“Kau membangkitkan yang telah beristirahat,”
suaranya bergema, berat dan retak,
“maka aku akan mengantarmu kembali… dengan api.”
Prawira Sangkala tersenyum.
Darah mengalir dari sela-sela zirah hitamnya, melayang di udara seperti benang hidup.
“Api?”
ia tertawa pelan.
“Cobalah lebih keras.”
Benang-benang darah itu melesat, mencoba menjerat Bhra Anuraga—
namun lenyap terbakar sebelum menyentuh.
Untuk sesaat.
Lalu Prawira menjatuhkan senyumnya.
Tubuhnya mencair.
Zirah, daging, dan tulang berubah menjadi cairan darah pekat, mengalir deras di lantai gua yang panas, lalu memanjat kaki Bhra Anuraga seperti makhluk hidup.
Api Bhra menyala lebih besar—
namun darah itu tidak mendidih.
Ia menyerap panas.
Merayap ke dada.
Ke leher.
Ke jantung.
Bhra Anuraga tersentak.
Langkahnya terhenti.
Api di sekelilingnya bergetar liar—tak lagi teratur.
“Apa… yang kau—”
Darah Prawira menyusup ke dalam pori, masuk ke pembuluh, mengikat organ-organ dari dalam. Jantung Bhra tersendat. Paru-parunya menolak udara. Api yang selama ini tunduk padanya kini kehilangan irama.
Tubuh sang penguasa api mulai membatu dari dalam—bukan oleh dingin, melainkan oleh kekosongan aliran hidup.
Prawira berbicara dari segala arah, dari dalam darah itu sendiri.
“Api membutuhkan napas.”
“Dan aku… meminjamnya.”
Bhra Anuraga berlutut.
Api meledak tak terkendali—lalu meredup tajam.
Saat itulah—
KRAK—!!
Langit gua terbelah oleh cahaya putih kebiruan.
Petir raksasa menghantam tepat ke tubuh Bhra Anuraga.
Guntur Wisesa berdiri di kejauhan, kedua tangannya terangkat, rambutnya terangkat oleh medan listrik yang meraung.
“Keluar.”
suaranya seperti hukum langit.
“Atau lenyap.”
Petir tidak membakar darah—
ia memisahkannya.
Cairan darah Prawira Sangkala terpental keluar dari tubuh Bhra, tersambar kilat, menjerit dalam suara yang bukan suara manusia, lalu berkumpul kembali di lantai gua—membentuk wujudnya dengan tergesa.
Prawira terhuyung, lututnya menyentuh tanah.
Untuk pertama kalinya—
ia tidak tersenyum.
Bhra Anuraga terengah, jatuh satu tangan ke tanah, api di tubuhnya menyala kecil, liar, tak stabil.
Guntur Wisesa mendekat, masih dikelilingi sisa kilat.
“Jangan berdiri,” katanya cepat.
“Satu tarikan lagi dan jantungmu akan berhenti.”
Bhra Anuraga tertawa pendek—batuk darah menyusul.
“Heh… ternyata…”
“darah juga bisa memadamkan api.”
Di kejauhan, Prawira Sangkala menegakkan tubuhnya kembali.
Matanya kini gelap—bukan oleh kegelapan,
melainkan oleh perhitungan ulang.
Pertempuran belum usai.
Namun satu hal telah berubah:
malam ini, api telah belajar takut pada darah.
Di lorong lain yang dipenuhi gema air dan angin, Sagara Putra dan Bayu Anggana terpisah dari saudara-saudara mereka. Cahaya biru berkilau di dinding gua, namun keindahan itu ternoda oleh kehadiran Raksapati Mahodra, sang Ksatria Tulang.
Tanpa sentuhan, tanpa amarah yang tampak, ia menggerakkan kehendaknya.
Terdengar bunyi retak yang mengerikan.
Sagara Putra terhuyung, lututnya menghantam tanah basah. Nafasnya terputus, dan jerit tertahan keluar dari dadanya.
“Aaargh…!”
Tulang rusuknya patah—diremuk dari dalam, seolah tubuhnya berkhianat pada dirinya sendiri.
Namun sebelum Bayu Anggana sempat menyerang, suara lain terdengar—lemah, basah, dan penuh penyesalan.
Kabut basah membentuk sosok Tirta Samirana.
Wajahnya pucat, tubuhnya setengah lenyap, seperti embun yang dipaksa mengenakan wujud manusia.
“Sagara Putra…”
suaranya bergetar,
“ampuni aku… ini bukan kehendakku.”
Kabut di sekelilingnya berdenyut gelap, seakan ada tangan tak terlihat yang mengikat jiwanya.
“Tubuh ini… dikendalikan.”
“Kau tahu kelemahanku.”
“Cepat… bunuh aku, sebelum aku melukai kalian lebih jauh.”
Mata Sagara Putra bergetar. Luka di tubuhnya belum pulih, namun hatinya lebih dahulu robek.
“Akulah yang seharusnya meminta maaf,”
katanya lirih,
“karena tidak berada di sisimu… saat kematianmu dahulu.”
Ia berdiri tertatih.
Lalu tubuhnya larut.
Daging menjadi air. Darah menjadi arus. Dalam sekejap, Sagara Putra berubah menjadi gelombang hidup yang meledak ke segala arah—air murni, bercahaya biru keperakan, mengalir deras menghampiri Tirta Samirana.
Air itu memurnikan.
Kotoran, luka, dan sisa-sisa kehancuran tersapu bersih. Untuk sesaat, wajah Tirta Samirana tampak tenang—seperti dahulu kala.
Namun kegelapan di dalam dirinya tidak runtuh.
Ia bertahan, menghitam, berakar jauh lebih dalam daripada tubuh.
Bayu Anggana menggeram pelan.
“Maka biarlah angin yang mengakhiri penderitaan ini.”
Ia mengangkat tangannya.
Angin lahir bukan sebagai hembusan—melainkan tangan langit.
Tubuh Tirta Samirana terangkat, terputar, lalu dibanting ke langit-langit gua dengan kekuatan badai. Batu pecah, kabut tercerai, dan suara kehancuran menggema panjang sebelum akhirnya sunyi.
Sagara Putra kembali ke wujud manusia, terengah.
Dengan sisa kekuatannya, ia melangkah maju dan menancapkan segel air bercahaya ke sisa inti roh Tirta Samirana.
“Beristirahatlah,”
bisiknya,
“kawan lama.”
Cahaya biru meredup perlahan.
Dan di tempat itu, di antara batu basah dan angin yang masih berdesir, satu jiwa akhirnya menemukan ketenangan—meski dunia di luar masih terbakar oleh perang.
Chapter 88 isidore bertarung
Chapter 88 isidore bertarung
Isidore, ditemani Rakajati, akhirnya tiba di ruang terdalam gua—sebuah rongga batu raksasa yang langit-langitnya dipenuhi akar purba, berdenyut pelan seolah bernapas bersama bumi.
Di sana berdiri Ki Surya Dahana.
Jubahnya bergelombang seperti bayangan api, tongkatnya menancap di tanah, dan matanya memantulkan cahaya hitam keemasan.
Isidore melangkah maju.
Satu langkah.
Dua langkah.
Dengan tarikan napas tenang, ia mengayunkan pedangnya.
Slaaash—
Namun yang terpotong hanyalah bayangan.
Tubuh Ki Surya Dahana lenyap, tercerai seperti asap diterpa angin malam.
“Ilusi…,”
gumam Rakajati, merasakan getaran aneh di akar-akar di bawah kakinya.
Dari balik kegelapan, terdengar tawa rendah—bukan satu, melainkan tiga.
Kabut tersibak.
Muncullah para kepala suku:
Orkaghor, si Bercak Darah, dengan mata menyala liar.
Mhezzrak, sang Pisau Tak Terlihat, tubuhnya hampir menyatu dengan bayangan.
Vorthax, si Gila Darah, memanggul pedang raksasa yang pernah menumbangkan naga.
Tanah bergetar saat mereka melangkah maju.
Rakajati menghentakkan tongkatnya.
Dari dinding dan lantai gua, cabang-cabang pohon hidup melesat, meliuk seperti ular raksasa, melilit kaki dan tangan para kepala suku dengan kecepatan kilat.
“Terikatlah oleh kehendak hutan,”
ujar Rakajati, suaranya dalam dan tua seperti bumi itu sendiri.
Namun Orkaghor tersenyum menyeringai.
“Saatnya mencoba… hasil latihan kita.”
Tubuh mereka berubah.
Otot membesar, tulang menonjol, dan aura gelap menyelimuti senjata masing-masing. Artefak terkutuk yang mereka genggam berdenyut, merespons darah dan amarah.
Craaak!
Cabang-cabang pohon dipotong, diracik, dihancurkan—seolah kayu tak lagi memiliki kehendak.
Isidore maju tanpa ragu.
Pedang panjangnya—yang dahulu keris—bercahaya perak kebiruan. Setiap langkahnya ringan, namun penuh tekanan, seperti ombak yang tahu kapan harus menghantam.
Benturan pertama terjadi.
Klang!
Klang!
Klang!
Pedang Isidore beradu dengan senjata Orkaghor dan Vorthax, percikan cahaya berhamburan menghantam dinding gua.
Mhezzrak mencoba menyerang dari belakang—namun Isidore berputar, langkahnya luwes dan tepat, seakan telah menghafal medan sebelum menginjaknya.
Dari kejauhan, Ksatria Cheon Myeong mengamati.
Matanya menyipit—bukan karena cemas, melainkan takjub.
“Ia telah melampaui apa yang kuajarkan,”
bisiknya pada angin.
“Gerakan Dewa Pedang… kini telah sempurna.”
Isidore bergerak bukan lagi sebagai murid.
Ia adalah poros medan perang.
Satu tebasan membuka ruang.
Satu langkah menutup celah.
Satu tarikan napas menyatukan niat dan baja.
Para kepala suku kini tak lagi tertawa.
Mereka menyadari—
yang berdiri di hadapan mereka
bukan sekadar putra raja,
melainkan pedang kehendak Mythopia itu sendiri.
Dan jauh di balik bayangan yang belum lenyap sepenuhnya,
Ki Surya Dahana menyaksikan.
Menilai.
Menunggu saat yang tepat
untuk kembali turun ke panggung kehancuran.